Sabtu, Maret 18, 2017

Salatiga; Kota Rindu



Ada suatu kisah yang manis tentang sebuah kota. Sebuah kota Rindu, begitu kami mungkin akan menyebutnya. Di suatu senja yang biasa, dengan aroma air hujan yang sesaat sebelumnya membasahi jalan-jalan yang sudah dikenal baik oleh banyak orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Ia adalah kota, di mana kami, anak-anak rindu ini terbiasa menghabiskan waktu selepas kesibukan perkuliahan kami. Saat kami harus mengerjakan sesuatu, atau ketika kami biasa untuk tidak melakukan apa-apa dan sekedar berkumpul membicarakan segala hal yang memang layak untuk kami bicarakan; ide-ide, impian, atau membicarakan orang-orang, apa saja, siapa saja. Ia tentu saja adalah waktu-waktu yang kami rindukan. Dan di kota Rindu ini kami bertemu kembali, bersapa dan bercerita, tak ubahnya seperti yang dulu-dulu. Di suatu malam, di sebuah sudut kota yang kali kedua menawarkan kenangan manis bagi saya, dengan aroma air hujan yang sesaat sebelumnya membasahi jalan dan trotoar serta setiap hal yang kami kenali cukup baik. Salatiga, orang-orang biasa memanggilnya.

Malam itu adalah malam yang baik, malam yang membawa kami bersama kembali, sebab kedua kawan baik kami, Ulfa dan Mario esok paginya akan menyusul kami, meraih gelar sarjana mereka, yang nantinya mau tak mau hanya akan menjadi cerita yang baik tentang apa saja yang pernah terlewatkan di masa-masa belajar mereka. Ah kawan, ketahuilah bahwa beberapa bulan dari hari ini kau akan merindukan betapa menjadi mahasiswa naif dengan idealisme yang berlebihan adalah harta yang paling berharga. Dan kau tentu akan sangat merindukan waktu-waktu itu. Sama seperti kini, kami merindukannya. Dan untuk kesempatan malam itu, saya mengucapkan terimakasih yang dalam untuk mereka. Bukan apa-apa, sebab jika bukan karena kelulusan mereka ini, tak mungkin kami, anak-anak ini berkumpul kembali di kota yang juga selalu menawarkan cerita-cerita yang baik. Jojo yang tengah menyiapkan dirinya pergi ke Kanada di tahun ini, untuk sebuah program volunteer yang ia ikuti, juga Ryan, ia yang lahir dan dibesarkan di kota ini, yang kini harus tinggal di Ibu Kota untuk bekerja, kemudian cik Grace yang tengah sibuk belajar bersabar untuk mengurus anak-anak kecil di sekolahnya, dan Sandra yang masih terlalu mencintai kota ini, hingga sepertinya enggan untuk keluar atau kembali ke kota asalnya, serta Huri yang masih sibuk mencari beasiswa S2-nya dan beberapa kawan kami yang lainnya, yang dengan sangat bangga merelakan waktu untuk berkumpul bersama malam itu, untuk kedua kawan kami ini. Ulfa dan Mario, kedua orang yang mau tak mau kami akui menjadi bagian penting dari setiap hal yang kami kerjakan. Mereka ini selalu memiliki ide-ide yang baik tentang apa-apa saja yang akan kami lakukan. Biarpun si Mario pada akhirnya hanya akan berakhir sebagai penghibur, dengan candaan yang tak terbatas dan cerita romantisme-nya yang selain membuat kagum mereka yang mendengar, juga bisa menyebabkan tawa yang tak berkesudahan. Dan Ulfa, kau tahu, seperti kisah tentang Es Buah yang tak begitu lampau, selalu ada sebagai anak yang menenangkan kami, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, walaupun esoknya ia akan sebal sendiri saat kami mengulang cerita-cerita bodoh tersebut dan kami akan terus saja mencandai hal itu, yang biarpun konyol adalah tetap saja kenangan yang manis.

Saya mengingat obrolan kami di malam-malam itu dengan cukup baik, betapa Ryan, dengan kumisnya itu, mengatakan sesaat sebelum keberangkatannya ke kota ini, bukan saja bahagia dan riang yang ia bayangkan, tetapi suatu kenyataan yang berat saat melihat dengan sadar, betapa hari Minggu esok, ia mesti kembali lagi menjalani kehidupannya di kota orang dan meninggalkan kotanya sendiri. Kembali melakukan rutinitas-rutinitas yang itu-itu saja. Atau Jojo, yang menyetujui pendapat saya betapa sekarang kami terlalu sering menggunakan tolok ukur kawan-kawan perkuliahan kami kepada orang-orang di tempat yang kini kami tinggali. Betapa membanding-bandingkan menjadi alasan yang tak terlalu hina untuk terus menganggap bahwa kawan-kawan di masa kuliah kami ini adalah kawan-kawan terbaik yang tak ada gantinya. Berlebihan betul! Terlebih Mario, kawan dengan hati yang lebih besar dari berat badannya itu, dengan cerita-cerita yang melankolis dan bahasa-bahasa yang entah ia dapatkan dari mana, selalu bisa mendeskripsikan betapa dia telah merasa kesepian tinggal di kotanya sendiri. Dan hal-hal yang demikian inilah yang pada akhirnya berlanjut ke dalam pembahasan yang lebih jauh. Saat kemudian kami sampai harus membuat sebuah permainan, di mana masing-masing dari kami akan mengajukan sebuah pertanyaan dan akan dijawab oleh semua yang hadir malam itu. Biar semua terlibat, biar semua mengungkapkan apa yang menjadi kegelisahaannya. Hal-hal sepele dan remeh temeh hingga sesuatu yang sangat dalam. Selalu saja, tentang kenangan, idealisme yang mau tak mau harus kami tepiskan, tentang penyesalan-penyesalan tentang hal yang sempat dilakukan atau yang tak sempat dilakukan, hal-hal baik, dan tentu saja, tentang romantisme anak-anak muda yang entah bagaimana selalu saja bisa masuk ke dalam obrolan-obrolan kami. Namun tetap saja, waktu menjadi pembatas keceriaan kami malam itu. Sesaat setalah hujan meninggalkan dingin yang tak karuan itu, serta lelah yang tak lebih besar dari kebahagiaan kami, kami mesti mengakhirinya. Menyiapkan esok di mana kami akan sekali lagi bersama, berkumpul dan bercerita.

---

Jadi benarlah bila ia disebut kota Rindu. Sebuah kota milik siapa saja yang merasa memilikinya. Seorang anak yang tinggal beberapa ratus meter darinya pun merasa memiliki kota tersebut hanya karena ia beberapa tahun menghabiskan masa mudanya di sana, menulis cerita dari awal mula ia mengenal asmara hingga saat idealisme yang ia miliki terkikis perlahan-lahan. Seorang petualang yang hanya sesekali berteduh di bawah naungan pepohonan rindang di jalan-jalan utama pun suatu kali tertarik untuk kembali lagi. Mencicipi kenangan-kenangan akan senja yang baik, juga cerita tentang kota dan hal lainnya. Pun mereka, para pemuda dari berbagai kota, yang dengan sedikit malas menginjakkan kaki mereka di kota kecil ini untuk belajar, setelah beberapa lama tersihir oleh atmosfer kota yang begitu tenang, suatu saat akan menginginkan waktu-waktunya tercurah di sudut-sudut kota yang awalnya tak ia sukai. Bahkan para pelancong, ia yang hanya melintas, tamu-tamu dari berbagai kota dan siapa saja yang sesekali pernah bersinggah di kota ini, pada suatu saat akan merasa terpanggil kembali. Karena itu, cobalah kau berjalan-jalan menyusuri gang-gangnya yang sepi, selepas hujan di malam hari, sambil mendengarkan kisah-kisah kenangan tentang kota ini. Dengan diiringi These Streets dari Paolo Nutini yang serasa mengantarkan nostalgia tentang apa-apa saja yang pernah terjadi di jalan-jalan yang begitu familiar. Kemudian bersatu dengan obrolan-obrolan orang-orang di sekitar, mendengarkan cerita dan keluh kesah di balik wangi asap tembakau atau kepulan panas kopi yang tersaji di cangkir-cangkir mungil mereka, tenggelam dalam tawa yang tak terbatas. Betapa ia telah membesarkan banyak sekali jiwa yang baik. Betapa ia telah menumbuhkan benih-benih keriangan di malam-malam saat beberapa kawan duduk bersama melingkari meja-meja makan dengan cerita yang menggelora tentang apa saja. Di mana benih-benih tersebut akan tersemai di ingatan kami dan terus tumbuh, membuahkan rasa rindu yang manis.

--

Dan kami akan selalu mengingat, bukan saja tentang malam itu, tapi tentang setiap hal yang kami pernah lakukan bersama. Saat masing-masing dari kami nantinya duduk mengerjakan kesibukan kami sendiri. Menata jalan-jalan kami dengan impian yang telah kami siapkan sendiri. Dan nantinya, kami memastikan bahwa kami semua akan pulang ke kota ini sekali lagi, kota Rindu, yang bukan milik kami sepenuhnya, tapi kami serasa memilikinya. Kami akan terus mengingat dan mengenang. Tentang jalan-jalan yang mulai terang dengan lampu-lampu yang baru, tentang tembok-tembok yang bercoretkan kisah rindu di mana-mana, tentang jendela yang terbuka di sebuah gedung fakultas kami yang tinggi menjulang dengan aksen kenangan yang sama, serta tentang kunci pintu yang rusak, yang mengingatkan kami akan malam-malam Natal dengan kisah sentimentil yang selalu membikin kami menghela nafas, merindukannya.

Kamis, Februari 16, 2017

Anak-anak Rindu

Kakek Terbaik Sedunia
Sudah cukup lama sekali di dalam ingatan kami, entah tiga, empat atau beberapa tahun kami tidak duduk bersama di meja makan, tidak membicarakan apa-apa kecuali diri kami sendiri. Lalu membuka setiap hal yang masing-masing dari kami alami saat-saat itu; di sekolah, di tempat bermain, di tempat kerja atau di mana saja misalnya. Kemudian melanjutkan pembicaraan yang lebih sakral tentang masa depan, pendidikan, cita-cita, hingga asmara, mungkin saja.  Sudah lama sekali.

Yah, keluarga. Saya sedang mencoba mengingat ke belakang tentang masa-masa di mana saya pernah tumbuh menjadi bagian dari hal baik  yang masih saja membekas hingga saat ini. Yang sedikit banyak menyumbang cerita dan idealisme tentang bagaimana memandang hidup kami sendiri. Di dalam sebuah keluarga yang luar biasa dengan naik turunnya. Segala tawa, haru, ketakutan, tangis, rindu, kecewa dan hal-hal yang masih terus terasa menjengkelkan sekaligus mengasyikan hingga detik ini. Namun bukankah itu semua ada untuk dinikmati dan disyukuri? Maka biarlah ia tertulis di sini.

---

Saya tumbuh di dalam keluarga yang baik. Sebuah keluarga yang besar dan bahagia namun sedikit kurang romantis. Ibarat kami sudah terbiasa untuk hidup sendiri-sendiri. Kami tidak terlalu sering berbagi kisah pribadi kami karena terkadang hal-hal semacam itu terasa menggelikan. Sehingga bisa dibilang kepedulian-kepedulian yang tercurah di antara kami adalah kepedulian sok cuek yang dilontarkan sambil lalu. Ya, semacam kepedulian yang tidak terlalu ingin untuk diketahui, atau semacam itu lah. Dan saya kira hal-hal tersebut adalah cara kami berbagi kasih sayang tanpa harus menyentuh terlalu dekat dengan hal-hal pribadi tiap individu. Ah, menyebalkan sekaligus menyenangkan rasanya. Ya, hal-hal tersebut berjalan beriringan dengan kenangan-kenangan lain tentang masa kecil kami.

Saat anak-anak lain menikmati liburan mereka ke tempat-tempat baru bersama keluarga mereka, misalnya. Saya dan kakak saya hanya akan berakhir di pangkuan kakek nenek kami. Di kota kelahiran yang penuh sesak itu. Mendengarkan dongeng mereka tentang apa saja. Tentang kisah-kisah heroik sejarah bangsa, tentang nenek buyut kami yang konon masih keturunan suatu kerajaan di daearah Boyolali, tentang keluarga kami sendiri dengan segala naik turunnya. Dan tentang segala hal lainnya. Cerita yang justru kini membuat saya meragukannya.

Atau saat anak-anak lain berbangga masuk ke gerbang sekolah dengan berbekal senyum kedua orang tua mereka, saya adalah anak yang cukup bersyukur bahwa saya bisa berangkat ke sekolah tanpa harus mempedulikan omelan ibu saya soal apa-apa saja yang meributkannya. Soal bangun siang, soal seragam kotor, soal sarapan yang tak dihabiskan, soal apa saja. Hanya soal sepatu usang yang kadang membuat saya menggerutu.

Di saat lain, ketika teman-teman kami begitu kagum dan bangga tentang cerita keluarga mereka, tentang hal-hal manis yang mereka bagikan dan rayakan bersama, tentang gambar-gambar yang mereka tempel di rumah-rumah mereka, kami hanya bisa tersenyum geli membayangkan betapa menikmati kesempatan makan malam bersama adalah hal baik yang begitu langka bagi kami. Kami bahkan tidak sempat memiliki kesempatan untuk sekedar mengabadikan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan. Misalnya saat-saat yang manis ketika salah satu dari kami berulang tahun atau semacamnya. Sayang sekali bukan?

Namun, terlepas dari hal-hal menyedihkan itu, ada tersimpan kenangan-kenangan baik yang memang akan selalu membuat rindu.  Tentang masa-masa yang baik. Masa di mana hal-hal yang paling membahagiakan adalah bertemu dengan ayah kami yang dengan sangat menyebalkan kala itu kami rindukan. Misalnya, saat saya bocah yang dengan bodoh percaya bahwa ketika kita merindukan orang-orang yang kita sayangi, kita bisa menyampaikannya dengan meneriaki namanya di bak mandi. Saya melakukannya. Entah siapa yang memberi tahu, tapi sungguh, tangis menjadi begitu saja reda dan kelegaan benar-benar terasa, sebab rindu seolah sudah tersampaikan kepada ayah saya yang kala itu sedang jauh. Ajaib memang.

Pun, kami mengingat betapa waktu-waktu itu adalah waktu di mana berkeliling kota dengan mengendarai sepeda tua bersama kakek kami adalah liburan yang paling istimewa. Hanya melihat-lihat dan menikmati setiap sudut kota kelahiran yang sedang berbahagia itu dengan tawa kanak-kanak kami tanpa berani menginginkan hal-hal yang lain. Itu pula merupakan masa di mana mengikat tali sepatu sendiri merupakan kebanggan yang luar biasa. Seolah kami ini adalah orang dewasa yang siap untuk mengencingi dunia. Dan masa-masa itu pula adalah saat ketika hal-hal yang mematahkan hati kami adalah hal-hal sederhana semacam kekalahan bermain kelereng atau petak umpet, atau gagal menerbangkan layang-layang dan iri sebab anak-anak lain dibelikan mainan-mainan baru oleh orang tua mereka.

Dan saya kira, setiap kita tentu akan merindukan masa-masa tertentu tentang cerita kanak-kanak yang pernah kita lalui. Melampaui segala hal buruk yang mungkin saja ada di setiap sudut-sudut kenangan, kita akan menemukan cerita yang membuat kita bersyukur karenanya.

Sebab memang masih ada begitu banyak hal yang semestinya tak perlu disampaikan di sini. Ia adalah hal-hal baik dan buruk yang disediakan untuk orang-orang terbaik kita. Mereka yang mau percaya dan menerima kita secara penuh. Bukan melulu hal-hal baik yang ada pada kita atau yang berada di depan kita. Sebab apa gunanya mereka ada bila hanya sekedar untuk hal-hal baik yang ada pada kita dan tak mau menerima keburukannya?

Senin, Januari 16, 2017

Membayangkan Hari Menua

Saya pernah berpikir jika kelak saya akan menghabiskan masa pensiun dengan tinggal bersama seorang perempuan tua yang sama-sama menyukai buku dan menghabiskan hari-hari kami mendengarkan lagu-lagu country di saat tengah hari dan folk di setiap senja. Kemudian membangun sebuah kedai sederhana yang menyajikan cerita dan romantisme di dalam gelas-gelas kopi dan lembaran kisah-kisah ajaib hasil karya manusia. Pasti menyenangkan sekali membayangkannya. Konyol memang, sebab nyatanya baru beberapa waktu saya mencicipi kehidupan orang dewasa yang melelahkan. Dan sekarang saya membayangkan masa-masa tua yang damai dan tenang. Tapi bukanlah dosa untuk sekedar berandai-andai tentang masa-masa tua yang terdengar cukup syahdu dengan hal-hal yang kita cintai. Jadi kini, saya akan sedikit bercerita tentang hal itu.


Saya pernah beberapa kali termenung berandai-andai bagaimana saya mungkin akan menikmati setiap detik masa-masa tua nanti. Tinggal bersama seorang perempuan tua cerewet yang selalu merisaukan anak-anaknya yang hidup berada jauh di kota lain. Di temani seekor anjing Saint Bernard yang juga telah tua dan malas, yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tiduran di depan televisi dibanding bermain-main di halaman belakang kami, juga lagu-lagu yang berputar menunjukkan seberapa kami telah melampaui waktu muda kami bersenang-senang.  Melalui sebuah gramaphone tua misalnya, yang sengaja diletakan di sudut salah satu ruangan dengan terus berputar memainkan lagu-lagu country dan folk. Juga rak-rak yang berisi buku-buku acak macam panduan membuat bonsai karya Colin Lewis, kemudian fiksi-fiksi kriminal Agatha Christie hingga kisah-kisah satir RyĆ«nosuke Akutagawa dan beraneka ragam jenis buku lainnya dengan hanya diterangi oleh bohlam-bohlam kuning yang cahayanya remang dan malas. Saya akan senang untuk menghiasi dinding-dinding yang warna-warna cat yang telah memudar dengan gambar-gambar palsu karya Vincent van Gogh, Salvador Dali hingga Affandi. Foto-foto petualangan kami di masa muda yang sengaja dibuat hitam putih pun mungkin akan cukup menarik untuk dipasang memberi kesan lawas yang dalam.

Hari-hari kami akan berisi obrolan dan debat yang tak berkesudahan tentang hal-hal sepele. Misal mana merk sabun mandi yang paling wangi, atau siapa yang paling keras mendengkur saat tidur di antara kami, hingga memperdebatkan siapa yang terbaik antara HDT dan Annie Dillard. Dalam membayangkan hal itu, saya akan memilih untuk tinggal di sebuah rumah mungil dengan sebuah taman kecil berisi bunga-bunga, sayur mayur dan bermacam tanaman obat, di sebuah sudut kota yang tenang. Mendirikan sebuah galeri buku independent yang mengijinkan siapa saja untuk datang membaca dan meminjam buku-buku kami. Atau membelinya juga mungkin akan sedikit membantu. Dan bolehlah, orang berlalu lalang, datang dan pergi untuk sekedar menikmati bercangkir-cangkir kopi dengan obrolan mereka tentang apa saja sampai larut. Mungkin juga akan ada sekumpulan anak muda dengan visi revolusioner mereka sengaja berdiskusi tentang Mark hingga Castro. Atau gadis-gadis tanggung yang datang dan pergi kecewa karena tidak menemukan buku Tere Liye di sana. Kamipun mengijinkan beberapa pasang muda-mudi untuk datang membawa pundi-pundi cinta mereka dengan berbagai kisah asmara hanya untuk sekedar mencari sebuah tempat untuk bermesraan. Karena mereka akan menjadi teman di masa-masa tua kami tinggal di sana. Merekalah yang akan menyegarkan kami dengan ide-ide baru dari anak-anak yang lebih muda dari kami di masa-masa itu. Anak-anak yang menyebalkan tentunya.

Menarik pastinya, menjalani hari-hari dengan dikelilingi fantasi dan imajinasi yang berlebih. Yah, dan semua itu hanyalah angan-angan semata. Hal-hal yang mungkin terkesan muluk-muluk untuk seorang anak yang baru saja melakoni babak baru dalam perjalanan hidupnya. Ia tentu akan menjumpai banyak hal, yang sedikit banyak akan berpengaruh dan mengubah hal-hal yang ia mungkin pernah bayangkan. Namun sekali lagi, bukankah kita adalah anak-anak manusia yang suka sekali berharap hal-hal baik terjadi pada diri kita? Atau mungkin tidak? Entahlah.

Minggu, Januari 15, 2017

Di Sebuah Kota

Saya hampir tenggelam dalam bosan setelah beberapa jam menunggu hujan deras yang tak lekas reda. Di suatu sore, di teras sebuah kamar kos yang sepi lantaran ditinggal para penghuninya kembali ke tempat asal mereka. Dan saya seorang diri. Hanya ditemani alunan muram dan malas The Will to Death dari John Frusciante. Ah, kau tahu, sungguh menyebalkan ketika mengetahui bahwa hal-hal ringan yang dapat menghiburmu sedikit di sela-sela kegamanganmu pada akhirnya pelan-pelan menjauh, memudar dan pergi. Klasik! Lalu ia akan kembali lagi, menyembunyikan hal-hal yang ia tak mau kau tahu dengan kepolosannya yang tak bisa kau hindari. Untuk itu, hadapilah biarpun sesungguhnya kau tahu betul.

Dan menunggu adalah pekerjaan yang baik. Ia selalu bisa menjadi katalis bagi otak untuk memunculkan banyak sekali hal yang tak sempat terpikirkan saat beraktivitas. Ia tentu saja membosankan. Namun ayolah, bukankah menyanyikan Creep-nya Radiohead keras-keras sambil berharap bahwa orang-orang akan menghargai usaha kecilmu yang telah kau lakukan untuk merekapun nyatanya tak kurang membosankan dibanding semua ini? Ia bahkan menjadi sia-sia belaka. Dan saya kira, saya akan lebih menghargai derai hujan yang lebih jujur sebagai lagu yang merdu ketimbang tawa renyah yang ringan dan mudah pergi begitu saja.

Awalnya, saya berencana untuk sekedar berjalan-jalan tanpa tujuan memutari kota yang untuk beberapa lama akan saya tinggali. Saya tengah memerlukannya untuk sedikit meringankan sakit kepala. Untuk sedikit menjernihkan isi pikiran dari hal-hal negatif serta kecurigaan berlebih akan orang-orang, hal-hal dan banyak lagi. Ah, sudahlah! Saya membayangkan bahwa mungkin saya akan menemukan kejutan-kejutan kecil yang saya rindukan. Hal-hal sederhana yang membuat kedua sudut bibir agak naik sedikit. Mungkin warna-warna cerah dapat juga membuat mata saya sedikit berbinar. Karena saya begitu menyukai sensasi saat pupil mata beradaptasi dengan perubahan cahaya. Membesar lalu mengecil. Mengecil lalu membesar. 

Sayapun membayangkan akan menjumpai hal-hal tak biasa terjadi pada hari-hari ini. Semisal sepasang kakek dan nenek yang sedang bermain lompat tali, atau seorang ayah berbadan besar dengan tato dan brewoknya sedang mengajari gadis kecilnya menari balet. Ataupun seorang gadis cantik berparas bidadari yang memilih menikah muda dengan seorang pemuda biasa saja yang hanya memiliki tubuhnya dan idealisme yang berlebih-lebih. Sungguh menyenangkan. Saya yakin saya tidak mungkin menemukannya, tapi percayalah, harapan-harapan remeh yang semacam itu tak lantas membuat dirimu hina.

Saya masih saja menunggu sesore ini. Tak ada gelas-gelas kopi, lembaran kertas bersampul bertuliskan huruf cetak yang tebal, yang saat diabadikan di dalam gambar akan memberikan sensasi elegan layaknya para hipokrit di media-media (sosial). Hanya ada sebuah kotak ajaib datar yang sedari tadi menemani dengan lagu-lagu sekenanya, tak peduli suasana apa yang sedang terjadi sebab iapun tak peduli. Hingga akhirnya saat senja datang, saat ia mesti tiba, hujan nampaknya mulai malas berjatuhan ke tanah. Ia perlahan berpamitan, meninggalkan airnya yang menggenang di sudut-sudut halaman. Namun, karena senjalah yang pada akhirnya datang , serta lantunan puji-pujian mulai mengalun di langit yang mendung di kota sore ini, bukanlah hal yang baik untuk melanjutkan tekad yang sedari tadi sejujurnya telah berubah menjadi kemalasan. Dan tulisan ini, yang seharusnya akan saya maksudkan untuk menceritakan hal-hal baik yang mungkin ditawarkan kota ini beberapa jam lalu, pada akhirnya berubah menjadi kisah remah-remah yang klise seperti biasanya. Menyebalkan sekali.

Selasa, Desember 13, 2016

Hal-hal Terakhir

LDKM FBS 2016
Memasuki penghujung tahun selalu ada saja hal yang layak untuk diputar kembali. Semacam mengulang kaset tape yang berisi cerita-cerita kehidupan kita sendiri. Ia tentu saja penuh hal-hal yang semestinya ditinggal dan dilupakan. Tapi beberapa hal justru membikin kita suka termenung-menung seorang diri.

Saya mengalami begitu banyak hal untuk pertama kalinya di tahun ini. Namun, bukan hal-hal pertama itulah yang saya kira akan saya tuliskan. Hal-hal terakhirlah yang nyatanya membuat ingatan dan kenangan serasa ingin berputar ke belakang. Karena ia tak mungkin dapat kita lakukan kembali. Atau karena ia tak dapat kita rasakan di waktu-waktu yang akan datang. Sehingga hal-hal terakhir ini akan berakhir sebagai sesuatu yang harus dilupakan atau justru dirindukan. Seperti sebuah perasaan romansa yang kini mulai dingin begitu saja hilang sejak terakhir kali menggapai puncak di selatan Jawa kala itu. Atau juga saat terakhir memegang suatu keyakinan yang terkesan keren yang kini justru tiba-tiba harus merendah merunduk pada kenyataan yang senyata-nyatanya. Saat kita tidak lagi bisa berpaku pada hal-hal ide tanpa tau hal praktis yang perlu dipahami, saat itulah ia harus lenyap.

Masih terasa begitu jelas, saat-saat terakhir saya terlibat dan menyibukkan diri dengan banyak sekali kegiatan kampus. Bersama orang-orang favorit saya. Di mana kami bisa mengobrol apa saja, atau membicarakan siapa saja, hingga menjelek-jelekkan divisi lain yang tidak semilitan kami. Ah, saya merindukannya. Serta hari-hari tanpa mandi, juga malam-malam yang tentu tanpa tidur pun pernah saya lewati dengan baik. Dia adalah masa-masa terakhir kesibukan dengan kawan-kawan satu angkatan. Dia begitu menyebalkan. Tapi sungguh, beberapa momen tentang hal itu justru membuat beberapa di antara kami yang merindukannya. 

Saya juga masih mengingat betapa menyebalkannya menyusun tugas akhir untuk kelulusan beberapa bulan yang lalu. Ia adalah malam-malam yang berat. Penuh penat yang selalu saja membuahkan perasaan bersalah jika dengan sengaja atau tidak telah memejamkan mata sebelum terlebih dahulu menyelesaikan puluhan revisi. Namun iapun membuat diskusi dengan beberapa orang kawan menjadi terkesan sedikit akademis. Apalagi karena kami memiliki tema yang hampir sama dalam penulisan tugas akhir tersebut.

Yang masih begitu dekat, beberapa hari yang lalu, saya begitu bersemangat bisa bekerja bersama angkatan baru dari organisasi kami sebagai outbound trainer LDKM FBS 2016. Terlepas dari beberapa hal menjengkelkan yang terus saja terpikirkan, ada banyak perasaan aneh yang timbul di antaranya selama masa-masa itu. Sebuah perasaan bangga dan permulaan kerinduan akan kegiatan bersama di waktu-waktu yang akan datang. Dan itu mungkin kali terakhir saya akan sebegitu dalam dan dekat dengan mereka. Karena setelah ini saya mesti melanjutkan apa yang sudah menunggu di depan. Tentang mereka ini, puluhan diskusi dan rapat mungkin sudah terlewati, ratusan keluh kesah dan beberapa kali kebosanan datang dan menghampiri. Tapi sungguh aneh, ketika selesai seluruh kegiatan kami, perasaan gamang dan nelangsa begitu mudah untuk hinggap. Dan perasaan semacam itulah yang menelurkan kerinduaan akan segala sesuatu.

Karena pada saatnya nanti, pada suatu waktu yang tak tentu, bukanlah hal yang keliru ketika setiap kita terasa tergerak untuk mengeja rindu. Dan hal-hal terakhir itulah yang biasanya akan paling terasa menempel di selaput pikiran kita. Entah baik atau buruk, hal-hal terakhir selalu menyajikan ingatan yang lebih nyata. Ia akan menjadi sesal ketika ia adalah buruk. Namun begitulah, karena sesal adalah pemanis di setiap akhir. Apa jadinya jika ia datang di awal? Tentu kita tak kan memanggilnya sesal. Dan ketika ia adalah akhir yang baik, tentu saja kerinduanlah yang akan selalu berusaha menjangkaunya kembali.