Sabtu, Maret 18, 2017

Salatiga; Kota Rindu



Ada suatu kisah yang manis tentang sebuah kota. Sebuah kota Rindu, begitu kami mungkin akan menyebutnya. Di suatu senja yang biasa, dengan aroma air hujan yang sesaat sebelumnya membasahi jalan-jalan yang sudah dikenal baik oleh banyak orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Ia adalah kota, di mana kami, anak-anak rindu ini terbiasa menghabiskan waktu selepas kesibukan perkuliahan kami. Saat kami harus mengerjakan sesuatu, atau ketika kami biasa untuk tidak melakukan apa-apa dan sekedar berkumpul membicarakan segala hal yang memang layak untuk kami bicarakan; ide-ide, impian, atau membicarakan orang-orang, apa saja, siapa saja. Ia tentu saja adalah waktu-waktu yang kami rindukan. Dan di kota Rindu ini kami bertemu kembali, bersapa dan bercerita, tak ubahnya seperti yang dulu-dulu. Di suatu malam, di sebuah sudut kota yang kali kedua menawarkan kenangan manis bagi saya, dengan aroma air hujan yang sesaat sebelumnya membasahi jalan dan trotoar serta setiap hal yang kami kenali cukup baik. Salatiga, orang-orang biasa memanggilnya.

Malam itu adalah malam yang baik, malam yang membawa kami bersama kembali, sebab kedua kawan baik kami, Ulfa dan Mario esok paginya akan menyusul kami, meraih gelar sarjana mereka, yang nantinya mau tak mau hanya akan menjadi cerita yang baik tentang apa saja yang pernah terlewatkan di masa-masa belajar mereka. Ah kawan, ketahuilah bahwa beberapa bulan dari hari ini kau akan merindukan betapa menjadi mahasiswa naif dengan idealisme yang berlebihan adalah harta yang paling berharga. Dan kau tentu akan sangat merindukan waktu-waktu itu. Sama seperti kini, kami merindukannya. Dan untuk kesempatan malam itu, saya mengucapkan terimakasih yang dalam untuk mereka. Bukan apa-apa, sebab jika bukan karena kelulusan mereka ini, tak mungkin kami, anak-anak ini berkumpul kembali di kota yang juga selalu menawarkan cerita-cerita yang baik. Jojo yang tengah menyiapkan dirinya pergi ke Kanada di tahun ini, untuk sebuah program volunteer yang ia ikuti, juga Ryan, ia yang lahir dan dibesarkan di kota ini, yang kini harus tinggal di Ibu Kota untuk bekerja, kemudian cik Grace yang tengah sibuk belajar bersabar untuk mengurus anak-anak kecil di sekolahnya, dan Sandra yang masih terlalu mencintai kota ini, hingga sepertinya enggan untuk keluar atau kembali ke kota asalnya, serta Huri yang masih sibuk mencari beasiswa S2-nya dan beberapa kawan kami yang lainnya, yang dengan sangat bangga merelakan waktu untuk berkumpul bersama malam itu, untuk kedua kawan kami ini. Ulfa dan Mario, kedua orang yang mau tak mau kami akui menjadi bagian penting dari setiap hal yang kami kerjakan. Mereka ini selalu memiliki ide-ide yang baik tentang apa-apa saja yang akan kami lakukan. Biarpun si Mario pada akhirnya hanya akan berakhir sebagai penghibur, dengan candaan yang tak terbatas dan cerita romantisme-nya yang selain membuat kagum mereka yang mendengar, juga bisa menyebabkan tawa yang tak berkesudahan. Dan Ulfa, kau tahu, seperti kisah tentang Es Buah yang tak begitu lampau, selalu ada sebagai anak yang menenangkan kami, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, walaupun esoknya ia akan sebal sendiri saat kami mengulang cerita-cerita bodoh tersebut dan kami akan terus saja mencandai hal itu, yang biarpun konyol adalah tetap saja kenangan yang manis.

Saya mengingat obrolan kami di malam-malam itu dengan cukup baik, betapa Ryan, dengan kumisnya itu, mengatakan sesaat sebelum keberangkatannya ke kota ini, bukan saja bahagia dan riang yang ia bayangkan, tetapi suatu kenyataan yang berat saat melihat dengan sadar, betapa hari Minggu esok, ia mesti kembali lagi menjalani kehidupannya di kota orang dan meninggalkan kotanya sendiri. Kembali melakukan rutinitas-rutinitas yang itu-itu saja. Atau Jojo, yang menyetujui pendapat saya betapa sekarang kami terlalu sering menggunakan tolok ukur kawan-kawan perkuliahan kami kepada orang-orang di tempat yang kini kami tinggali. Betapa membanding-bandingkan menjadi alasan yang tak terlalu hina untuk terus menganggap bahwa kawan-kawan di masa kuliah kami ini adalah kawan-kawan terbaik yang tak ada gantinya. Berlebihan betul! Terlebih Mario, kawan dengan hati yang lebih besar dari berat badannya itu, dengan cerita-cerita yang melankolis dan bahasa-bahasa yang entah ia dapatkan dari mana, selalu bisa mendeskripsikan betapa dia telah merasa kesepian tinggal di kotanya sendiri. Dan hal-hal yang demikian inilah yang pada akhirnya berlanjut ke dalam pembahasan yang lebih jauh. Saat kemudian kami sampai harus membuat sebuah permainan, di mana masing-masing dari kami akan mengajukan sebuah pertanyaan dan akan dijawab oleh semua yang hadir malam itu. Biar semua terlibat, biar semua mengungkapkan apa yang menjadi kegelisahaannya. Hal-hal sepele dan remeh temeh hingga sesuatu yang sangat dalam. Selalu saja, tentang kenangan, idealisme yang mau tak mau harus kami tepiskan, tentang penyesalan-penyesalan tentang hal yang sempat dilakukan atau yang tak sempat dilakukan, hal-hal baik, dan tentu saja, tentang romantisme anak-anak muda yang entah bagaimana selalu saja bisa masuk ke dalam obrolan-obrolan kami. Namun tetap saja, waktu menjadi pembatas keceriaan kami malam itu. Sesaat setalah hujan meninggalkan dingin yang tak karuan itu, serta lelah yang tak lebih besar dari kebahagiaan kami, kami mesti mengakhirinya. Menyiapkan esok di mana kami akan sekali lagi bersama, berkumpul dan bercerita.

---

Jadi benarlah bila ia disebut kota Rindu. Sebuah kota milik siapa saja yang merasa memilikinya. Seorang anak yang tinggal beberapa ratus meter darinya pun merasa memiliki kota tersebut hanya karena ia beberapa tahun menghabiskan masa mudanya di sana, menulis cerita dari awal mula ia mengenal asmara hingga saat idealisme yang ia miliki terkikis perlahan-lahan. Seorang petualang yang hanya sesekali berteduh di bawah naungan pepohonan rindang di jalan-jalan utama pun suatu kali tertarik untuk kembali lagi. Mencicipi kenangan-kenangan akan senja yang baik, juga cerita tentang kota dan hal lainnya. Pun mereka, para pemuda dari berbagai kota, yang dengan sedikit malas menginjakkan kaki mereka di kota kecil ini untuk belajar, setelah beberapa lama tersihir oleh atmosfer kota yang begitu tenang, suatu saat akan menginginkan waktu-waktunya tercurah di sudut-sudut kota yang awalnya tak ia sukai. Bahkan para pelancong, ia yang hanya melintas, tamu-tamu dari berbagai kota dan siapa saja yang sesekali pernah bersinggah di kota ini, pada suatu saat akan merasa terpanggil kembali. Karena itu, cobalah kau berjalan-jalan menyusuri gang-gangnya yang sepi, selepas hujan di malam hari, sambil mendengarkan kisah-kisah kenangan tentang kota ini. Dengan diiringi These Streets dari Paolo Nutini yang serasa mengantarkan nostalgia tentang apa-apa saja yang pernah terjadi di jalan-jalan yang begitu familiar. Kemudian bersatu dengan obrolan-obrolan orang-orang di sekitar, mendengarkan cerita dan keluh kesah di balik wangi asap tembakau atau kepulan panas kopi yang tersaji di cangkir-cangkir mungil mereka, tenggelam dalam tawa yang tak terbatas. Betapa ia telah membesarkan banyak sekali jiwa yang baik. Betapa ia telah menumbuhkan benih-benih keriangan di malam-malam saat beberapa kawan duduk bersama melingkari meja-meja makan dengan cerita yang menggelora tentang apa saja. Di mana benih-benih tersebut akan tersemai di ingatan kami dan terus tumbuh, membuahkan rasa rindu yang manis.

--

Dan kami akan selalu mengingat, bukan saja tentang malam itu, tapi tentang setiap hal yang kami pernah lakukan bersama. Saat masing-masing dari kami nantinya duduk mengerjakan kesibukan kami sendiri. Menata jalan-jalan kami dengan impian yang telah kami siapkan sendiri. Dan nantinya, kami memastikan bahwa kami semua akan pulang ke kota ini sekali lagi, kota Rindu, yang bukan milik kami sepenuhnya, tapi kami serasa memilikinya. Kami akan terus mengingat dan mengenang. Tentang jalan-jalan yang mulai terang dengan lampu-lampu yang baru, tentang tembok-tembok yang bercoretkan kisah rindu di mana-mana, tentang jendela yang terbuka di sebuah gedung fakultas kami yang tinggi menjulang dengan aksen kenangan yang sama, serta tentang kunci pintu yang rusak, yang mengingatkan kami akan malam-malam Natal dengan kisah sentimentil yang selalu membikin kami menghela nafas, merindukannya.

Kamis, Februari 16, 2017

Anak-anak Rindu

Kakek Terbaik Sedunia
Sudah cukup lama sekali di dalam ingatan kami, entah tiga, empat atau beberapa tahun kami tidak duduk bersama di meja makan, tidak membicarakan apa-apa kecuali diri kami sendiri. Lalu membuka setiap hal yang masing-masing dari kami alami saat-saat itu; di sekolah, di tempat bermain, di tempat kerja atau di mana saja misalnya. Kemudian melanjutkan pembicaraan yang lebih sakral tentang masa depan, pendidikan, cita-cita, hingga asmara, mungkin saja.  Sudah lama sekali.

Yah, keluarga. Saya sedang mencoba mengingat ke belakang tentang masa-masa di mana saya pernah tumbuh menjadi bagian dari hal baik  yang masih saja membekas hingga saat ini. Yang sedikit banyak menyumbang cerita dan idealisme tentang bagaimana memandang hidup kami sendiri. Di dalam sebuah keluarga yang luar biasa dengan naik turunnya. Segala tawa, haru, ketakutan, tangis, rindu, kecewa dan hal-hal yang masih terus terasa menjengkelkan sekaligus mengasyikan hingga detik ini. Namun bukankah itu semua ada untuk dinikmati dan disyukuri? Maka biarlah ia tertulis di sini.

---

Saya tumbuh di dalam keluarga yang baik. Sebuah keluarga yang besar dan bahagia namun sedikit kurang romantis. Ibarat kami sudah terbiasa untuk hidup sendiri-sendiri. Kami tidak terlalu sering berbagi kisah pribadi kami karena terkadang hal-hal semacam itu terasa menggelikan. Sehingga bisa dibilang kepedulian-kepedulian yang tercurah di antara kami adalah kepedulian sok cuek yang dilontarkan sambil lalu. Ya, semacam kepedulian yang tidak terlalu ingin untuk diketahui, atau semacam itu lah. Dan saya kira hal-hal tersebut adalah cara kami berbagi kasih sayang tanpa harus menyentuh terlalu dekat dengan hal-hal pribadi tiap individu. Ah, menyebalkan sekaligus menyenangkan rasanya. Ya, hal-hal tersebut berjalan beriringan dengan kenangan-kenangan lain tentang masa kecil kami.

Saat anak-anak lain menikmati liburan mereka ke tempat-tempat baru bersama keluarga mereka, misalnya. Saya dan kakak saya hanya akan berakhir di pangkuan kakek nenek kami. Di kota kelahiran yang penuh sesak itu. Mendengarkan dongeng mereka tentang apa saja. Tentang kisah-kisah heroik sejarah bangsa, tentang nenek buyut kami yang konon masih keturunan suatu kerajaan di daearah Boyolali, tentang keluarga kami sendiri dengan segala naik turunnya. Dan tentang segala hal lainnya. Cerita yang justru kini membuat saya meragukannya.

Atau saat anak-anak lain berbangga masuk ke gerbang sekolah dengan berbekal senyum kedua orang tua mereka, saya adalah anak yang cukup bersyukur bahwa saya bisa berangkat ke sekolah tanpa harus mempedulikan omelan ibu saya soal apa-apa saja yang meributkannya. Soal bangun siang, soal seragam kotor, soal sarapan yang tak dihabiskan, soal apa saja. Hanya soal sepatu usang yang kadang membuat saya menggerutu.

Di saat lain, ketika teman-teman kami begitu kagum dan bangga tentang cerita keluarga mereka, tentang hal-hal manis yang mereka bagikan dan rayakan bersama, tentang gambar-gambar yang mereka tempel di rumah-rumah mereka, kami hanya bisa tersenyum geli membayangkan betapa menikmati kesempatan makan malam bersama adalah hal baik yang begitu langka bagi kami. Kami bahkan tidak sempat memiliki kesempatan untuk sekedar mengabadikan kegiatan-kegiatan yang kami lakukan. Misalnya saat-saat yang manis ketika salah satu dari kami berulang tahun atau semacamnya. Sayang sekali bukan?

Namun, terlepas dari hal-hal menyedihkan itu, ada tersimpan kenangan-kenangan baik yang memang akan selalu membuat rindu.  Tentang masa-masa yang baik. Masa di mana hal-hal yang paling membahagiakan adalah bertemu dengan ayah kami yang dengan sangat menyebalkan kala itu kami rindukan. Misalnya, saat saya bocah yang dengan bodoh percaya bahwa ketika kita merindukan orang-orang yang kita sayangi, kita bisa menyampaikannya dengan meneriaki namanya di bak mandi. Saya melakukannya. Entah siapa yang memberi tahu, tapi sungguh, tangis menjadi begitu saja reda dan kelegaan benar-benar terasa, sebab rindu seolah sudah tersampaikan kepada ayah saya yang kala itu sedang jauh. Ajaib memang.

Pun, kami mengingat betapa waktu-waktu itu adalah waktu di mana berkeliling kota dengan mengendarai sepeda tua bersama kakek kami adalah liburan yang paling istimewa. Hanya melihat-lihat dan menikmati setiap sudut kota kelahiran yang sedang berbahagia itu dengan tawa kanak-kanak kami tanpa berani menginginkan hal-hal yang lain. Itu pula merupakan masa di mana mengikat tali sepatu sendiri merupakan kebanggan yang luar biasa. Seolah kami ini adalah orang dewasa yang siap untuk mengencingi dunia. Dan masa-masa itu pula adalah saat ketika hal-hal yang mematahkan hati kami adalah hal-hal sederhana semacam kekalahan bermain kelereng atau petak umpet, atau gagal menerbangkan layang-layang dan iri sebab anak-anak lain dibelikan mainan-mainan baru oleh orang tua mereka.

Dan saya kira, setiap kita tentu akan merindukan masa-masa tertentu tentang cerita kanak-kanak yang pernah kita lalui. Melampaui segala hal buruk yang mungkin saja ada di setiap sudut-sudut kenangan, kita akan menemukan cerita yang membuat kita bersyukur karenanya.

Sebab memang masih ada begitu banyak hal yang semestinya tak perlu disampaikan di sini. Ia adalah hal-hal baik dan buruk yang disediakan untuk orang-orang terbaik kita. Mereka yang mau percaya dan menerima kita secara penuh. Bukan melulu hal-hal baik yang ada pada kita atau yang berada di depan kita. Sebab apa gunanya mereka ada bila hanya sekedar untuk hal-hal baik yang ada pada kita dan tak mau menerima keburukannya?

Senin, Januari 16, 2017

Membayangkan Hari Menua

Saya pernah berpikir jika kelak saya akan menghabiskan masa pensiun dengan tinggal bersama seorang perempuan tua yang sama-sama menyukai buku dan menghabiskan hari-hari kami mendengarkan lagu-lagu country di saat tengah hari dan folk di setiap senja. Kemudian membangun sebuah kedai sederhana yang menyajikan cerita dan romantisme di dalam gelas-gelas kopi dan lembaran kisah-kisah ajaib hasil karya manusia. Pasti menyenangkan sekali membayangkannya. Konyol memang, sebab nyatanya baru beberapa waktu saya mencicipi kehidupan orang dewasa yang melelahkan. Dan sekarang saya membayangkan masa-masa tua yang damai dan tenang. Tapi bukanlah dosa untuk sekedar berandai-andai tentang masa-masa tua yang terdengar cukup syahdu dengan hal-hal yang kita cintai. Jadi kini, saya akan sedikit bercerita tentang hal itu.


Saya pernah beberapa kali termenung berandai-andai bagaimana saya mungkin akan menikmati setiap detik masa-masa tua nanti. Tinggal bersama seorang perempuan tua cerewet yang selalu merisaukan anak-anaknya yang hidup berada jauh di kota lain. Di temani seekor anjing Saint Bernard yang juga telah tua dan malas, yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tiduran di depan televisi dibanding bermain-main di halaman belakang kami, juga lagu-lagu yang berputar menunjukkan seberapa kami telah melampaui waktu muda kami bersenang-senang.  Melalui sebuah gramaphone tua misalnya, yang sengaja diletakan di sudut salah satu ruangan dengan terus berputar memainkan lagu-lagu country dan folk. Juga rak-rak yang berisi buku-buku acak macam panduan membuat bonsai karya Colin Lewis, kemudian fiksi-fiksi kriminal Agatha Christie hingga kisah-kisah satir RyĆ«nosuke Akutagawa dan beraneka ragam jenis buku lainnya dengan hanya diterangi oleh bohlam-bohlam kuning yang cahayanya remang dan malas. Saya akan senang untuk menghiasi dinding-dinding yang warna-warna cat yang telah memudar dengan gambar-gambar palsu karya Vincent van Gogh, Salvador Dali hingga Affandi. Foto-foto petualangan kami di masa muda yang sengaja dibuat hitam putih pun mungkin akan cukup menarik untuk dipasang memberi kesan lawas yang dalam.

Hari-hari kami akan berisi obrolan dan debat yang tak berkesudahan tentang hal-hal sepele. Misal mana merk sabun mandi yang paling wangi, atau siapa yang paling keras mendengkur saat tidur di antara kami, hingga memperdebatkan siapa yang terbaik antara HDT dan Annie Dillard. Dalam membayangkan hal itu, saya akan memilih untuk tinggal di sebuah rumah mungil dengan sebuah taman kecil berisi bunga-bunga, sayur mayur dan bermacam tanaman obat, di sebuah sudut kota yang tenang. Mendirikan sebuah galeri buku independent yang mengijinkan siapa saja untuk datang membaca dan meminjam buku-buku kami. Atau membelinya juga mungkin akan sedikit membantu. Dan bolehlah, orang berlalu lalang, datang dan pergi untuk sekedar menikmati bercangkir-cangkir kopi dengan obrolan mereka tentang apa saja sampai larut. Mungkin juga akan ada sekumpulan anak muda dengan visi revolusioner mereka sengaja berdiskusi tentang Mark hingga Castro. Atau gadis-gadis tanggung yang datang dan pergi kecewa karena tidak menemukan buku Tere Liye di sana. Kamipun mengijinkan beberapa pasang muda-mudi untuk datang membawa pundi-pundi cinta mereka dengan berbagai kisah asmara hanya untuk sekedar mencari sebuah tempat untuk bermesraan. Karena mereka akan menjadi teman di masa-masa tua kami tinggal di sana. Merekalah yang akan menyegarkan kami dengan ide-ide baru dari anak-anak yang lebih muda dari kami di masa-masa itu. Anak-anak yang menyebalkan tentunya.

Menarik pastinya, menjalani hari-hari dengan dikelilingi fantasi dan imajinasi yang berlebih. Yah, dan semua itu hanyalah angan-angan semata. Hal-hal yang mungkin terkesan muluk-muluk untuk seorang anak yang baru saja melakoni babak baru dalam perjalanan hidupnya. Ia tentu akan menjumpai banyak hal, yang sedikit banyak akan berpengaruh dan mengubah hal-hal yang ia mungkin pernah bayangkan. Namun sekali lagi, bukankah kita adalah anak-anak manusia yang suka sekali berharap hal-hal baik terjadi pada diri kita? Atau mungkin tidak? Entahlah.

Minggu, Januari 15, 2017

Di Sebuah Kota

Saya hampir tenggelam dalam bosan setelah beberapa jam menunggu hujan deras yang tak lekas reda. Di suatu sore, di teras sebuah kamar kos yang sepi lantaran ditinggal para penghuninya kembali ke tempat asal mereka. Dan saya seorang diri. Hanya ditemani alunan muram dan malas The Will to Death dari John Frusciante. Ah, kau tahu, sungguh menyebalkan ketika mengetahui bahwa hal-hal ringan yang dapat menghiburmu sedikit di sela-sela kegamanganmu pada akhirnya pelan-pelan menjauh, memudar dan pergi. Klasik! Lalu ia akan kembali lagi, menyembunyikan hal-hal yang ia tak mau kau tahu dengan kepolosannya yang tak bisa kau hindari. Untuk itu, hadapilah biarpun sesungguhnya kau tahu betul.

Dan menunggu adalah pekerjaan yang baik. Ia selalu bisa menjadi katalis bagi otak untuk memunculkan banyak sekali hal yang tak sempat terpikirkan saat beraktivitas. Ia tentu saja membosankan. Namun ayolah, bukankah menyanyikan Creep-nya Radiohead keras-keras sambil berharap bahwa orang-orang akan menghargai usaha kecilmu yang telah kau lakukan untuk merekapun nyatanya tak kurang membosankan dibanding semua ini? Ia bahkan menjadi sia-sia belaka. Dan saya kira, saya akan lebih menghargai derai hujan yang lebih jujur sebagai lagu yang merdu ketimbang tawa renyah yang ringan dan mudah pergi begitu saja.

Awalnya, saya berencana untuk sekedar berjalan-jalan tanpa tujuan memutari kota yang untuk beberapa lama akan saya tinggali. Saya tengah memerlukannya untuk sedikit meringankan sakit kepala. Untuk sedikit menjernihkan isi pikiran dari hal-hal negatif serta kecurigaan berlebih akan orang-orang, hal-hal dan banyak lagi. Ah, sudahlah! Saya membayangkan bahwa mungkin saya akan menemukan kejutan-kejutan kecil yang saya rindukan. Hal-hal sederhana yang membuat kedua sudut bibir agak naik sedikit. Mungkin warna-warna cerah dapat juga membuat mata saya sedikit berbinar. Karena saya begitu menyukai sensasi saat pupil mata beradaptasi dengan perubahan cahaya. Membesar lalu mengecil. Mengecil lalu membesar. 

Sayapun membayangkan akan menjumpai hal-hal tak biasa terjadi pada hari-hari ini. Semisal sepasang kakek dan nenek yang sedang bermain lompat tali, atau seorang ayah berbadan besar dengan tato dan brewoknya sedang mengajari gadis kecilnya menari balet. Ataupun seorang gadis cantik berparas bidadari yang memilih menikah muda dengan seorang pemuda biasa saja yang hanya memiliki tubuhnya dan idealisme yang berlebih-lebih. Sungguh menyenangkan. Saya yakin saya tidak mungkin menemukannya, tapi percayalah, harapan-harapan remeh yang semacam itu tak lantas membuat dirimu hina.

Saya masih saja menunggu sesore ini. Tak ada gelas-gelas kopi, lembaran kertas bersampul bertuliskan huruf cetak yang tebal, yang saat diabadikan di dalam gambar akan memberikan sensasi elegan layaknya para hipokrit di media-media (sosial). Hanya ada sebuah kotak ajaib datar yang sedari tadi menemani dengan lagu-lagu sekenanya, tak peduli suasana apa yang sedang terjadi sebab iapun tak peduli. Hingga akhirnya saat senja datang, saat ia mesti tiba, hujan nampaknya mulai malas berjatuhan ke tanah. Ia perlahan berpamitan, meninggalkan airnya yang menggenang di sudut-sudut halaman. Namun, karena senjalah yang pada akhirnya datang , serta lantunan puji-pujian mulai mengalun di langit yang mendung di kota sore ini, bukanlah hal yang baik untuk melanjutkan tekad yang sedari tadi sejujurnya telah berubah menjadi kemalasan. Dan tulisan ini, yang seharusnya akan saya maksudkan untuk menceritakan hal-hal baik yang mungkin ditawarkan kota ini beberapa jam lalu, pada akhirnya berubah menjadi kisah remah-remah yang klise seperti biasanya. Menyebalkan sekali.

Selasa, Desember 13, 2016

Hal-hal Terakhir

LDKM FBS 2016
Memasuki penghujung tahun selalu ada saja hal yang layak untuk diputar kembali. Semacam mengulang kaset tape yang berisi cerita-cerita kehidupan kita sendiri. Ia tentu saja penuh hal-hal yang semestinya ditinggal dan dilupakan. Tapi beberapa hal justru membikin kita suka termenung-menung seorang diri.

Saya mengalami begitu banyak hal untuk pertama kalinya di tahun ini. Namun, bukan hal-hal pertama itulah yang saya kira akan saya tuliskan. Hal-hal terakhirlah yang nyatanya membuat ingatan dan kenangan serasa ingin berputar ke belakang. Karena ia tak mungkin dapat kita lakukan kembali. Atau karena ia tak dapat kita rasakan di waktu-waktu yang akan datang. Sehingga hal-hal terakhir ini akan berakhir sebagai sesuatu yang harus dilupakan atau justru dirindukan. Seperti sebuah perasaan romansa yang kini mulai dingin begitu saja hilang sejak terakhir kali menggapai puncak di selatan Jawa kala itu. Atau juga saat terakhir memegang suatu keyakinan yang terkesan keren yang kini justru tiba-tiba harus merendah merunduk pada kenyataan yang senyata-nyatanya. Saat kita tidak lagi bisa berpaku pada hal-hal ide tanpa tau hal praktis yang perlu dipahami, saat itulah ia harus lenyap.

Masih terasa begitu jelas, saat-saat terakhir saya terlibat dan menyibukkan diri dengan banyak sekali kegiatan kampus. Bersama orang-orang favorit saya. Di mana kami bisa mengobrol apa saja, atau membicarakan siapa saja, hingga menjelek-jelekkan divisi lain yang tidak semilitan kami. Ah, saya merindukannya. Serta hari-hari tanpa mandi, juga malam-malam yang tentu tanpa tidur pun pernah saya lewati dengan baik. Dia adalah masa-masa terakhir kesibukan dengan kawan-kawan satu angkatan. Dia begitu menyebalkan. Tapi sungguh, beberapa momen tentang hal itu justru membuat beberapa di antara kami yang merindukannya. 

Saya juga masih mengingat betapa menyebalkannya menyusun tugas akhir untuk kelulusan beberapa bulan yang lalu. Ia adalah malam-malam yang berat. Penuh penat yang selalu saja membuahkan perasaan bersalah jika dengan sengaja atau tidak telah memejamkan mata sebelum terlebih dahulu menyelesaikan puluhan revisi. Namun iapun membuat diskusi dengan beberapa orang kawan menjadi terkesan sedikit akademis. Apalagi karena kami memiliki tema yang hampir sama dalam penulisan tugas akhir tersebut.

Yang masih begitu dekat, beberapa hari yang lalu, saya begitu bersemangat bisa bekerja bersama angkatan baru dari organisasi kami sebagai outbound trainer LDKM FBS 2016. Terlepas dari beberapa hal menjengkelkan yang terus saja terpikirkan, ada banyak perasaan aneh yang timbul di antaranya selama masa-masa itu. Sebuah perasaan bangga dan permulaan kerinduan akan kegiatan bersama di waktu-waktu yang akan datang. Dan itu mungkin kali terakhir saya akan sebegitu dalam dan dekat dengan mereka. Karena setelah ini saya mesti melanjutkan apa yang sudah menunggu di depan. Tentang mereka ini, puluhan diskusi dan rapat mungkin sudah terlewati, ratusan keluh kesah dan beberapa kali kebosanan datang dan menghampiri. Tapi sungguh aneh, ketika selesai seluruh kegiatan kami, perasaan gamang dan nelangsa begitu mudah untuk hinggap. Dan perasaan semacam itulah yang menelurkan kerinduaan akan segala sesuatu.

Karena pada saatnya nanti, pada suatu waktu yang tak tentu, bukanlah hal yang keliru ketika setiap kita terasa tergerak untuk mengeja rindu. Dan hal-hal terakhir itulah yang biasanya akan paling terasa menempel di selaput pikiran kita. Entah baik atau buruk, hal-hal terakhir selalu menyajikan ingatan yang lebih nyata. Ia akan menjadi sesal ketika ia adalah buruk. Namun begitulah, karena sesal adalah pemanis di setiap akhir. Apa jadinya jika ia datang di awal? Tentu kita tak kan memanggilnya sesal. Dan ketika ia adalah akhir yang baik, tentu saja kerinduanlah yang akan selalu berusaha menjangkaunya kembali.

Selasa, September 13, 2016

Malam-malam Tanpa Tidur serta Hari-hari Tanpa Mandi

Di antara banyak sekali kisah di masa-masa kuliah, hal-hal terbaik yang akan selalu kita ingat tentunya semua hal di luar urusan akademis. Percayalah, kita akan sangat senang sambil terkekeh-kekeh saat bercerita tentang hal-hal remeh temeh semacam membolos mata kuliah tertentu hanya untuk nongkrong di suatu tempat, atau kegiatan absurd lainnya bersama kawan-kawan kita. Dan saya sampai saat ini tak bisa membayangkan apa yang ada di benak anak-anak lain yang kuliah mati-matian hingga tak sempat berkegiatan dengan teman-temannya di kampus, atau justru biasa beralasan bahwa dia mungkin bisa kehabisan oksigen jika membolos kuliah untuk sekadar membantu teman-temannya menyelesaikan kegiatan bersama. Maksud saya, setelah akhirnya menjadi seorang sarjana pun pada akhirnya kita harus turun ke masyarakat, ke banyak orang untuk terlibat di dalam sesuatu, melaksanakan sesuatu, menjadi berguna apapun itu. Tidak hanya menjadi mesin pencetak uang yang hanya peduli terhadap dirinya sendiri. Bukan apa-apa, tapi banyak juga kawan saya yang kuliahnya santai, tak pernah belajar setiap malam atau bahkan malam sebelum tes, cukup banyak kegiatan (entah kegiatan yang berguna maupun hanya bermain-main), nyatanya lulus 4 tahun juga, dengan indeks prestasi di atas tiga setidaknya, dan mereka tetap saja loyal dengan segala kegiatan kami. Dan tentu saja pergaulan mereka jauh lebih luas. Wong nyatanya, mereka, anak-anak yang mati-matian tadi, pada akhirnya lulus dengan nilai yang tak banyak bedanya kok, paling banter tiga koma sekian dan tidak ada yang empat! Dan skripsinya? Ya sama saja, pada akhirnya juga sekadar for the sake of lulus. Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi, setiap orang punya kesenangannya sendiri. Dan saya serta beberapa kawan, baik kawan fakultas atau kawan organisasi, pada kenyataannya sangat menyukai apa yang kami lakukan di luar kegiatan belajar kami.

Dari semua itu, yang hendak saya tuliskan adalah memori-memori terakhir saya saat berkegiatan bersama kawan-kawan fakultas. Kawan-kawan satu angkatan tentunya.

Adalah suatu kegiatan tahunan yang diadakan oleh fakultas. Sebuah kegiatan sebagai wadah unjuk gigi dari masing-masing angkatan untuk berekspresi dan menunjukkan kebolehan mereka dalam hal akademis dan kreativitas. Ini adalah tahun terakhir kami, atau katakanlah tahun official kami sebagai satu angkatan tertua di fakultas, sehingga tentu saja kami dengan segala cara berusaha memberikan yang terbaik untuk angkatan kami. Walaupun, tentu saja banyak dari kami yang memiliki agenda tersendiri, semacam ambisi terpendam untuk menjadi yang terhebat di antara adik-adiknya. Namun terlepas dari hal itu, kesenangan yang justru saya dan beberapa kawan saya dapatkan adalah malam-malam di mana kami harus mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk angkatan kami dalam acara tersebut. Ya, kami mesti mengupayakan banyak sekali hal. Urusan tetek bengek dari perlengkapan dan aksesoris yang dibutuhkan angkatan kami, hingga malam-malam di mana kawan-kawan kami harus berlatih untuk perlombaan seperti mini drama, dance, lomba debat, serta kuis-kuis sederhana yang dipertandingkan di dalam acara tersebut. Dalam kesibukan semacam ini, setiap orang yang terlibat adalah berguna! Entah apa pun yang bisa mereka berikan. Macam, Teduh, kawan saya yang a la profesor itu yang dengan suka rela mengirimkan beberapa bilah bambu hijau yang masih hangat untuk property drama kami, atau Mario yang menyediakan rumahnya sebagai basecamp untuk menginap dan mengerjakan barang-barang tersebut. Semua orang yang terlibat memiliki fungsinya masing-masing. Dari para konseptor dan eksekutor dengan fungsi yang krusial hingga kawan-kawan saya yang runtang-runtung ke sana kemari sebagai penghibur. Tak apalah, karena penghibur nyatanya juga penting. Dan di antara itu semua, tentu saja masing-masing kami memiliki urusan sendiri-sendiri, kami punya kegiatan lain di luar sana, kami punya jadwal kuliah yang berbeda-beda, kami punya tanggung jawab, namun tetap saja, bangga rasanya mengingat betapa kawan-kawan saya ini berdedikasi untuk hal-hal bersama ini.

Kurang lebih tiga hari yang saya rasakan di mana karpet kotor, pintu-pintu kayu yang tercoret kuas, sofa dan banyak sekali barang di rumah Mario dengan bau-bauan aneh yang bercampur telah menjadi saksi bagaimana kami dengan tekun menghabiskan waktu-waktu kami yang mungkin akan lebih berguna untuk belajar mata kuliah yang saat ini pun saya tak ingat lagi. Tiga hari bagi saya, dan beberapa hari lebih banyak bagi kawan-kawan saya yang lain. Bukan apa-apa, sebelumnya saya hanya merasa agak enggan untuk bergabung karena ke-tidak-satu-visi-an di antara mereka akibat dari kemenangan yang kami dapatkan di pekan olahraga fakultas kami, EDO, ditambah dengan alasan-alasan lainnya. Kau tentu akan merasakan kegamangan ketika kualitas pertemananmu mulai diukur dari hasil dan bukannya usaha. Semacam kelupaan bahwa kegembiraan yang kami dapatkan tentunya adalah hal-hal sederhana atas kerja keras bersama yang lebih agung daripada hasil yang sekarang pun hilang begitu saja. Dan saat membicarakan menang atau kalah, beberapa hal mungkin sudah bergeser dari kebersamaan dan lebih kepada pencapaian. Ya, dan saya cukup enggan. Namun, setelah meluruskan beberapa hal dengan Ulfa, Grace dan Mario disertai rasa sentimentil yang berlebih beberapa malam sebelumnya, saya jadi bisa memaklumi hal-hal semacam itu terjadi di antara kawan-kawan kami. Saya pun harus bergabung di sisa tiga hari tersebut bersama mereka. Tiga hari, tanpa mandi maupun ganti baju -karena tidak sempat, dan tanpa tidur, tentu saja. Itulah yang terjadi.


Dan membolos kuliah untuk urusan semacam ini tentu bukan hal baru bagi kami. Akan ada banyak cerita jika kami harus kisahkan satu per satu. Mulai dari EDO, Loved ini, natal fakultas, Drama dan kegiatan-kegiatan semacamnya yang tentu saja memiliki kisahnya masing-masing. Beberapa dosen di fakultas kami ternyata cukup maklum dengan hal-hal semacam ini. Yah, selain karena mereka cukup dekat dengan kami, tentu saja karena dulunya mereka juga pernah terlibat di dalam kegiatan-kegiatan seperti ini. Dan membolos untuk kegiatan terakhir kami, pastilah memiliki prioritas yang lebih.

Ini adalah hari-hari yang berkeringat dan mengganggu. Kami harus memutar otak untuk mengerjakan sesuatu seperti yang diharapkan kawan-kawan kami di angan-angan mereka. Juga malam-malam lembur bagi beberapa dari kami. Ya, kami saat hanya berlima, berdelapan atau saat bersepuluh, entahlah. Di mana kami akan bertukar cerita tentang apa saja. Malam di mana kami begitu sering membayangkan bahwa mungkin ini adalah kerja keras yang kami lakukan bersama untuk terakhir kalinya, malam untuk mengenang apa-apa saja yang sudah kami lewat, hingga malam di mana kami merencanakan reuni yang kami saja bahkan belum berpisah! Konyol sekali. Malam itu juga adalah malam saat kami sesungguhnya akan lebih banyak berbisik-bisik atau tertawa dengan nada yang tertahan karena kami berada di lingkungan orang lain sekitaran jam 11 malam hingga 2 pagi. Hal itu terjadi lantaran kami mesti berpindah tempat dari rumah Mario ke pos kami yang lain, di mana kami menyimpan barang-barang besar yang tidak mungkin bisa disimpan di rumah Mario. Dan tentu saja, pembicaraan sentimentil tentang kisah-kisah kawan kami, Mario yang selalu saja membuat kami bergairah untuk tetap terjaga melupakan kantuk dan lelah kami sambil menggores tinta atau menancapkan paku payung di frame besar yang sudah disediakan oleh Iwan.

Dan malam-malam tanpa tidur serta hari-hari tanpa mandi tersebut akhirnya terbayar dengan kemenangan yang manis, suka cita dan kebahagiaan dari kami semua. Semua yang terlibat maupun tidak, semua yang mengingat maupun lupa, dan semua yang berbangga dan semuanya.

Saya percaya bahwa kelak kami akan membicarakan hal ini kembali. Saat kami sekali lagi menjadi para pengingat dan pelamun. Merindukannya, mungkin. 




P.S: Ide untuk menulis ini didapat saat saya dan kawan saya, Mario mengingat-ingat tentang rangkaian kegiatan yang kami katakan cukup 'gila' di akhir tahun 2014. Mulai dari kegiatan macam EDO, dekor Natal fakultas, Drama fakultas hingga Loved di tahun 2015 dan seterusnya hingga pertengahan 2016 ini. Juga tentu saja, kami mengingat betapa kami ini selalu tak jauh-jauh dari istilah; tukang, lembur, bolos kuliah dan hal-hal belakang layar lainnya.


P.S lagi: Saya juga sempat mengambil beberapa video amatir dengan kamera ponsel saya tanpa sepengetahuan kawan-kawan saya.

Jumat, Agustus 19, 2016

Pelamun dan Pengingat

Salah satu hal yang tidak saya dapat di dalam kopi adalah gosipnya bahwa ia akan membawa seseorang terjaga sepanjang malam sesaat setelah menelannya. Ya, gosip! Tentu saja, karena ia tak berpengaruh apa-apa pada indera-indera saya kecuali tentang urusan buang air kecil. Sekali mengantuk ya tetap saja mengantuk. Itu sudah bawaan mungkin. Tapi akhir-akhir ini saya sering kehabisan stok kopi di rumah dan satu-satunya orang yang menghabiskannya adalah saya sendiri. Lah, mau bagaimana lagi? Saya sedang sering terjaga sepanjang malam baru-baru ini, dan apalagi yang memungkinkan sanggup menemani selain desas-desus bahwa kopi berkhasiat ? Walaupun tidak demikian yang terjadi tapi ya, setidaknya ia ada sedari panasnya hingga dinginnya untuk menemani kebebalan tuannya yang tak kunjung berbuat sesuatu.

Setelah urusan-urusan perkuliahan selesai dengan segala tetek bengeknya, giliran hal-hal anehlah yang membayang-bayang di fase-fase menyebalkan dalam hidup saya.  Saat disibukkan oleh perulangan-perulangan yang membosankan; bangun siang, menulis, membaca, mengajar, menulis dan terjaga sepanjang malam, kemudian bangun siang, menulis, membaca dan terus-menerus seperti itu, tentu otakmu akan bekerja mencari jalan keluar untuk memanfaatkan setiap sisa energi yang ada. Dari setiap repetisi itu, hual paling menyebalkan yang sering hadir ialah kenyataan bahwa setiap malam saya biasa terjaga setelah satu dua jam tidur. Saat kira-kira malam tengah dikuasai serangga-serangga dengan nyanyiannya yang menenangkan dan malam saat lantunan lembut lagu apapun terdengar begitu muram, di saat itulah justru terkadang ide-ide baru bermunculan. Walaupun sialnya ia hanya akan bertahan sepuluh hingga lima belas menit setelah laptop dinyalakan. Sisanya hanya akan berakhir sebagai lamunan dan khayalan akan apa saja. 

Pada masa-masa seperti itulah saya kembali menjadi manusia empat hingga lima tahun yang lalu. Ketika mengingat-ingat adalah pekerjaan saya, dan melamun adalah kegiatan paruh waktunya. Saya bisa menjadi sangat sentimentil dibuatnya jika harus mengingat hal-hal yang terlampau melankolis. Diiringi tembang-tembang Pink Floyd yang tak kalah muram itu, semua ingatan terasa seperti sedang digambar di dalam mesin pencetak hitam-putih yang hanya menyisakan garis-garis kasar dan detail seadanya.

Bukan hanya hal-hal melankolis sesungguhnya. Kisah-kisah kebersamaan dengan kawan-kawanmu tentulah yang justru membuatmu menjadi melankolis. Dan untuk hal-hal semacam ini, saya akan mengingatnya secara mundur.

Saya akan mengingat sesaat sebelum kami belum benar-benar berpisah. Saat kami masih suka mencuri-curi waktu menghabiskan malam-malam dengan obrolan klise dan murahan. Di meja-meja bundar yang bercorak kenangan di tiap ujung-pangkalnya dengan gelas-gelas aneka macam minuman, serta beraneka makanan yang tak lebih nikmat dari ingatan ini sendiri. Mulai dari kisah-kisah sehari-hari menghadapi kepenatan perkuliahan yang membosankan, mencandai kawan-kawan kami akan jalan cerita cinta mereka atau disabilitas mereka untuk menyatakan cintanya untuk orang lain, hingga tentu saja merencanakan kegiatan apa saja yang paling-paling akan berakhir sebagai sekedar rencana. Klasik! Dan saya akui, beberapa saat setalah itu, saya akan suka untuk sekedar mengingat bila sesekali melintas di tempat-tempat kami suka menghabiskan malam bersama. Mengingat bahwa tempat-tempat itu mungkin telah merekam beberapa potongan percakapan yang tak terlampau penting, juga hal-hal yang kami sempat jalani. Mengingat bahwa mungkin saja pemilik tempat-tempat itu pernah agak jengkel dengan kami yang suka mengobrol begitu banyak hingga larut dengan hanya memesan beberapa gelas minum yang murah saja.

Ditarik lebih mundur lagi, akan ada sketsa yang masih nyata tentang perjuangan kebersamaan kami dalam acara-acara fakultas. Banyak sekali jika harus dituliskan. Bagaimana kami kepayahan mengatur segala sesuatunya. Dan di antara semua kepayahan itu, mengumpulan beberapa puluh anak untuk sekedar berbagi ide untuk bersenang-senang bersama menjadi pekerjaan paling mustahil saat itu. Jadilah kami berakhir sebagai segelintir udik yang sok-sok berdedikasi untuk angkatan. Malam-malam penuh gerutu dan sumpah serapah. Biarpun tawa kami masih kencang, siapapun di antara kami pasti enggan untuk bersuka rela menghabiskan malam-malamnya tanpa tidur hanya untuk sesuatu yang mereka sebut kebersamaan. Omong kosong memang, tapi yah itupun sedikit banyak telah merekatkan kebanyakan dari kami. Walaupun tak banyak memang. Namun setidaknya, nanti atau kapanpun itu, saat kami bertemu kembali, kami memiliki sedikit bahan untuk dibicarakan lagi. Diulang terus menerus tanpa harus merasa bosan.

Saya akan terus menemukan bahwa hal-hal telah begitu banyak berlalu jika harus terus mengingatnya satu per satu. Terlalu banyak. Begitulah kisah sentimentil yang terjadi empat tahun belakangan. Pertemuan-pertamuan tak terduga dengan Mark hingga Mochtar Lubis. Mantra-mantra ajaib mereka di tiap rak perpustakaan itu, ide dan gagasan besar yang begitu muluk untuk orang-orang macam kami yang selalu terbatas dengan realita. Keringat dan baunya yang akan membekas bersamaan dengan kepenatan kami bersama setelah menyelesaikan kegiatan-kegiatan bersama. Sore-sore yang manis nan sejuk saat menghabiskan waktu bersama beberapa gadis tertentu, berjalan menghapiri tiap sudut kampus dengan obrolan murahan yang menggelikan, hingga saat lelah bersama beberapa kawan tertawa-tawa membahas dan mengerjakan apa saja. 

Tentu saja semua itu adalah hal yang wajar. Karena banyak di antara kita memang terlahir untuk mengingat-ingat, untuk berkisah dan menceritakan perulangan-perulangan yang tak bosan-bosannya dibagikan. Di antara kita tersimpan banyak sekali orang dengan kemampuan melamunnya yang tiada tara, dan mengingat adalah sebuah pemberian yang agung. Dengan melamun dan mengingatlah kita biasanya diingatkan untuk belajar, walaupun pada kenyataanya, kita akan lebih banyak berkomentar konyol tentang ingatan-ingatan yang telah kita bangun dari lamunan.

Kamis, Juli 14, 2016

Tentang Penjelajah Hutan Yang Rendah Hati dan Kesepian serta Hal-hal Ajaib Lainnya

Namanya Adit, seorang anak Bandung. Saya mendapatkan namanya bukan karena saling berjabat tangan atau saling sebut nama, melainkan saat kami berdua mengisi formulir Simaksi saat hendak memulai pendakian kami. Badannya kurus dan agak tinggi, mungkin sekitar 170 sentimeter-an atau beberapa senti lebih pendek dari saya. Kulitnya hitam, terlalu jelas menceritakan kisah perjalanannya menembus rimba dan belantara. Rambutnya pendek dan senyuman ramah selalu menempel di wajahnya. Ya, dia dari Bandung dan sendirian bertekad mendaki gunung Merapi pagi itu. Dan lebih jauh lagi, ia berencana mendaki gunung Merbabu, kemudian Sindoro dan Sumbing di hari-hari berikutnya. Sialan! Itu adalah salalh satu impian saya yang hingga saat ini belum dapat terlaksana.

Kami bercakap-cakap sebelum memulai pendakian sembari menunggu gerimis reda di pagi hari itu. Banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari kisah pendakian kami masing-masing, tentang cerita-ceritanya menjelajah hutan-hutan di Jawa Barat, hingga hal-hal remeh tentang kehidupan kami sehari-hari. Kami lalu melanjutkan pembicaraan tentang gerimis hari itu, yang tak reda-reda dan membuat kami harus menunggu dengan sangat bosan. Hingga akhirnya, saat gerimis tampak mulai mereda, namun masih menyisakan tetes-tetesnya, kami memutuskan untuk berjalan duluan. Dan si Adit, ia tampak ingin membiarkan kami berdua mendahului dirinya. Entahlah, untuk sekedar mengijinkan kami menikmati atmosfer pagi itu hanya berdua atau sebagai ajang penunjukan diri yang nantinya membuktikan kalau dia begitu tangguh dengan rucksack besar di punggungnya. Ah, tapi kami tak sempat memikirkan sejauh itu karena yang kami lihat dia sedang asik memastikan seluruh perlengkapannya telah dibawanya. Dan dengan 1 tas punggung kecil yang saya bawa, kami berdua berpamit untuk berjalan lebih dulu. Kami memang tak berencana untuk menginap sehingga membawa bekal yang cukup untuk sehari saja adalah hal yang tepat. Pelan-pelan sekali, kami meniti jalanan beraspal sebelum mencapai Joglo dengan tulisan NEW SELO yang semacam tulisan Hollywood di Amerika itu dan memaksa kami untuk beristirahat.

Kami melanjutkan perjalanan, dan pelan-pelan namun pasti si Adit telah menyusul kami di New Selo. Ia berjalan begitu pelan dan sabar. Masih dengan senyumnya yang malah lebih mirip cengar-cengir itu, dia gantian melemparkan salam pamitan untuk melanjutkan pendakiannya. Kami membalas senyumnya yang ramah dengan sedikit mengakui bahwa kami tak sanggup jika harus bersaing dengan anak ini. Dan benar saja, kami semakin lama tertinggal jauh di belakang, hingga lama-lama ia sudah jauh hilang dari pandangan kami.

Kami berdua tak mempedulikan hal itu sesungguhnya. Kami hanya berusaha menikmati sebisa kami. Merasakan apa saja yang menarik bagi kami, serta melakukan hal-hal yang kami sukai. Kami terus saja berjalan, bercakap-cakap akan apa saja. Sesekali kami berhenti. Berhenti di mana saja untuk menikmati suasana siang itu. Juga berhenti untuk menghela nafas dan mengistirahatkan kaki yang mulai terasa pegalnya. Bahkan beberapa kali kami tergerak untuki masuk ke dalam semak-semak atau mendekat ke pepohonan di samping kiri kanan jalur pendakian karena kami hendak menyapa monyet-monyet yang sedang bergelantungan keluar mencari makan. Dan mereka sungguh banyak. Saya sempat ketakutan dibuatnya.

Cukup lama ketika pada akhirnya kami menjumpai Adit telah menunggu kami dengan sabar dan sedikit kelelahan di tanjakan menuju pos 2. Kami berhenti, mengobrol, berbagi minum dan cemilan. Si Adit inipun mulai bercerita kembali. Seperti tak lelah, ia bercerita tentang hal-hal yang ia dengar dari rekan-rekannya tentang gunung Merapi. Tentang mitos gaibnya, kedahsyatan ledakannya, sejarah panjangnya serta tentu saja kemashyurannya yang  disematkan karena keaktifan gunung ini yang memang luar biasa. Ia lantas memutuskan untuk mendirikan tendanya beberapa belas meter di atas tempat kami beristirahat sebelum nanti melanjutkan menyusul kami untuk mencapai puncak Merapi sore itu. Dan benarlah, ia yang sedari tadi dengan ransel dipunggungnya dan tampak kepayahan kini seolah tak menapakkan kaki di pasir-pasir yang kami lalui. Ia terus saja menyusul kami melalui jalanan terjal dengan semangat dua kali lipatnya dan senyum lebar yang membuat saya geleng-geleng sendiri. Ah, ajaib benar anak ini.

Dan saat kami mencapai puncak Merapi sore itu, kami menemukan banyak hal baik di sana. Selain dari kepayahan yang kami tanggung saat harus menanjaki jalanan berpasir itu, kami menemukan Adit yang sedang memanjatkan doa kepada Tuhannya dengan matras biru kami sebagai alasnya. Ya, sore itu ia tengah menjalankan apa yang ia percayai tentang semesta. Bukankah indah, jika kita berlaku seperti dia? Menjaga keluhuran jagad raya dengan senantiasa berterimakasih kepada apa yang kita sebut sebagai Tuhan, Allah, Dewa, Kosmos atau apa saja yang membuat kita sejenak menemukan diri kita sangat terbatas? Menjadi seperti Raden Brawijaya yang dengan kerendahan diri saat bersemedi ke puncak Hargo Dumilah, atau para penduduk lereng gunung Semeru dengan arcapada sebagai ungkapan ibadah yang tulus dan khusyuk. Kami memang tidak bersujud seperti apa yang ia lakukan. Namun melihatnya dengan sujudnya hingga ke tanah, membuat kami merasa perlu untuk berdiam dan memandang diri kami yang benar-benar kecil di alam semesta ini. Ah, berlebihan betul!

Rabu, Maret 16, 2016

Nowhere End

"I hope we could be alright again, smoke and laugh at my cigarette brand. I hope we could drive to nowhere end, listen to yours and my favorite band."


Minggu, Mei 10, 2015

Tentang Ciremai Yang Kurang Bersahabat

Tentang Ciremai Yang Kurang Bersahabat

Apa yang membuat kita begitu bersemangat terhadap sesuatu? Membuat kita bahkan menomorduakan kewajiban kita untuk hal yang begitu kita cintai. Pendakian Ciremai minggu lalu adalah salah satunya yang baru saja saya alami. Ciremai, ya gunung tertinggi di Jawa Barat. Saya bersama Andang, kakak kandung saya dan Mas Aji, kakak sepupu saya. Kami tiga bersaudara yang berpetualang menuju ke barat. Dan saya adalah adik kecil mereka. Anak yang paling bersemangat dengan pendakian kali ini. Di saat kedua kakak saya sedikit kurang yakin dengan keputusan mereka untuk mendaki gunung ini dari sisi utara, juga cerita-cerita misteriusnya yang tak dapat begitu saja diabaikan, saya masih begitu bahagia. Bukan saja karena saya akan menjelajah hutan di gunung tertinggi di tanah Sunda itu, akan tetapi, ini adalah pertama kali saya naik kereta api. Kampungan sekali bukan? Bahkan pada awal rencana kami, saya sempat mau nekad melakukan SIASAT di stasiun. Ah, sudahlah.

Rabu, Desember 31, 2014

Cerita Desember

Ini sekali lagi merupakan cerita tentang Desember. Bulan yang membuat perasaan haru begitu mudah timbul di hati beberapa orang. Bulan penghabisan yang akan membawa banyak sekali kenangan di tengah-tengahnya. Ia akan benar-benar menyisakan rasa takjub saat mengulang-ulang kisah tentang Gie, yang lahir dan kemudian mati di bulan ini, juga menyisakan keriangan Natal, bersamaan dengan cerita kawan-kawan fakultas saat menghias kantor fakultas kami dengan pernak-pernik Natal (yang dengan sedih saya rindukan), kebersamaan yang hangat yang jarang saya dapatkan sepanjang tahun-tahun kami bersama. Ia juga menjadi saksi cerita petualangan yang akan berlanjut pada kisah-kisah manis tentang sepasang anak muda yang menemukan keresahan hati mereka di puncak-puncak gunung. Serta masih banyak lagi kisah bersama kawan-kawan lain yang telah belakangan ini menemani saya bermain dan melakukan segala aktivitas. Ia sungguh akan berakhir sebagai bulan yang ajaib.

Begitulah Desember kali ini berkisah. Ia datang diawali dengan kehangatan di malam yang lelah saat saya dan kawan-kawan fakultas mengerjakan dekorasi Natal untuk fakultas kami. Melewatkan pergantian senja menuju pagi kala itu tanpa memejamkan mata kami hanya untuk menyelesaikan pohon natal yang ajaib dengan dekorasi-dekorasi lain. Sebuah malam yang manis, saat kami saling bercerita, bercanda, serta membayangkan dengan penuh rasa sentimentil jika suatu saat nanti kami telah berpisah dan sibuk dengan kehidupan kami masing-masing, mempertanyakan akankah kami mengingat malam itu sebagai malam yang hangat, sehangat lantunan saxophone Kenny G dengan tembang semacam Have Yourself A Merry Little Christmas. Ia juga adalah sebuah malam yang bagi saya cukup menguras hati, pikiran dan tenaga. Bagaimana tidak. Di sanalah saya, saat kawan-kawan yang lain tengah mempersiapkan diri mereka untuk mengikuti tes sebuah mata kuliah esok hari yang dengan santai saya abaikan. Di sanalah saat saya mesti menahan lelah dan kantuk untuk sesuatu yang kami sebut dedikasi. Di sana pula saya, saat menerima kabar pilu tentang seorang saudara yang anaknya harus dioperasi karena kedapatan tumor di langit-langit mulutnya. Saya serasa menjadi manusia linglung selama beberapa menit. Hanya bisa mondar-mandir dan duduk lemas di sebelah kawan saya, Mario. Namun tetap saja, malam itu menjadi malam yang sangat manis untuk kisah kebersamaan dengan beberapa kawan. Saya dan Mario pun sepakat bahwa kami berdua akan dengan segera merindukan kenangan malam itu. Dan benarlah, kami telah merindukannya!

Desember juga berlanjut dengan keceriaan seorang kawan dengan cerita-ceritanya yang menggelora. Gadis dengan senyum yang selebar langkah kakinya yang penuh semangat, gadis yang memang benar-benar bahagia sesuai namanya. Anak ini ada bersama saya saat melakukan pendakian ke gunung Ungaran di awal-awal minggu bulan Desember yang basah itu. Keriangan dan kecenderungannya untuk selalu kagum pada hal-hal yang ia temukan dan dengan penuh takjub selalu bisa membuat saya merasa bangga dapat mengenalkan petualangan ini padanya. Ia begitu mengagumi banyak hal di sekeliling kami. Dan saya dengan senang hati akan menceritakan hal-hal yang ia ingin ketahui tentang petualangan kami itu. Anak yang manis, yang suka menunjukkan perhatiannya pada hal-hal kecil di sekelilingnya, seperti saat ia menjumpai serangga-serangga hutan dan hal-hal lain yang kadang membuat saya geli. Ia ada bersama saya saat menjadi saksi tenggelamnya matahari di sebuah senja yang jingga di puncak gunung Ungaran. Di temani secangkir susu dan awan yang menggumpal di sekeliling kami, anak ini tampak begitu bahagia dengan senyumnya yang selalu saja bisa membuat saya ikut tersenyum. Kami melewati malam kami di gunung itu dengan banyak sekali bahan obrolan juga tembang-tembang yang manis semacam Lucky Man dari Mocca hingga Paradise dari Coldplay yang akan saya ingat hingga detik ini.

Dan di antara jutaan hingar dan kisah yang disajikan, seperti yang lainnya, Desember pun akan segera berakhir. Ya, ia harus berakhir. Demikian juga tahun yang indah ini. Ia pergi meninggalkan milyaran cerita yang akan sangat saya ingat. Dua belas bulan yang begitu hebat, yang sedikit banyak telah berefek dan mengubah beberapa manusia menjadi pribadi yang tampak agak sedikit berbeda. Begitu banyak cerita dari mulai cerita picisan hingga cerita serius yang cukup elegan untuk dikenang, yang senantiasa berjalan bersama menemani langkah-langkah saya dan yang dengan sendirinya memberi banyak sekali hal baik. Tentang kedekatan saya dengan banyak sekali kawan, yang baru maupun lama. Kawan yang saya jumpai di kehidupan nyata hingga tokoh-tokoh cerita di lembaran kertas yang saya baca. Ada pula kisah tentang petualangan bersama beberapa kawan. Dari petualangan saat gagal mendirikan tenda di Gunung Api Purba yang akhirnya menyebabkan kami terdampar di pantai Drini, hingga saat berbasah-basahan melawan arus sungai Kalipancur. Tentang derap suara hentakan kaki saat melompat-lompat menikmati tembang-tembang Navicula dan Behemoth, hingga lagu-lagu manis dari Mocca. Juga tentang obrolan di gunung Andong bersama Bagas dan Daniel, hingga malam-malam yang hebat di gunung Semeru yang tak bakal saya lupakan begitu saja. 

Begitulah, sementara Desember memang benar menabur gerimis, dan sementara pula sapu tangan  menyeka tangis dengan banyak sekali cerita pilu, ada banyak kisah yang hingar hingga sentimentil terjadi beriringan menghiasi bulan ini atau bahkan tahun ini. Dan seperti yang seharusnya, semua yang telah kita lewati, bukan hanya sekedar untuk dirayakan, akan tetapi juga untuk disyukuri.

Selamat menanti Tahun baru kawan, bersiaplah untuk hal-hal baik yang ia bawa!

Kamis, November 27, 2014

A Night in the Woods

" There is a pleasure in the pathless wood, 
  There is a rapture on the lonely shore, 
  There is society, where none intrudes, 
  By the deep sea, and music in its roar; 
  I love not man the less, but nature more. "


I was sitting right in front the dome tent, under the dim light of a flashlight over my head, staring at my friend's rusty stove with its blue flame and an aluminum mug on it. I felt tired after the long journey walking across the forest and struggling when trying to walk against the stream of the river of Kalipancur. But when the strong smell of babah kacamata black coffee rising up from the inside of the mug, the feeling of tiredness was gone all of sudden. It was really relaxing. The magical and aromatic fragrance of the coffee brought me a feeling of comfortable bed with a warm tight blanket covered all my body.

It was a night at Karangbawang, a village near Kalipancur, where my friends and I had planned to do a survey for our organization's agenda. We stepped into this place nearly after the sun had just fallen down in its nest, left its warmth and the sweet orange color in the west sky. That was a night where all of us gathered around under the stars. That was a night of stories and laughter, the sweetest Saturday night my friends and I have ever had. The night when all the business of our routine should be forgotten for a second. Spent our whole night talking about anything that came out from our mind, laughing, and even singing every song that was played from the mp3 player, with our tents surrounded by the trees and the dark of the night, and a sweet light of the half moon shone over all of the creatures below it. It felt like a holiday and it was just perfect!

There, I found the words of Lord Byron came to be true. It was more than a feeling of joy and peacefulness when sometimes I was sitting alone, facing the darkness of the forest and the sound of the night. I heard some night birds singing, some chats of insects among the grasses, and even some strange sounds that flew into my ears, mixed together with other sounds in the darkness. All the sounds were the music of the night, the symphony of the woods. I shared all my feeling with my friends. Sometimes I asked them to be quiet to listen to the sound of the wind. And sometimes, on purpose, we turned all the light off to enjoy the beautiful view of the night sky with the stars scattered all around it. There was a kind of magic that we found in the middle of the night among the trees. The magic that we would never find in the city with its light and even the noise pollution.

The night was getting higher as we were running out of things to be discussed. Some friends decided to end their involvement in our laughter. Others laid under the beautiful sky that night. They wanted to get some rest after the long journey. However, there were some friends who decided not to fall asleep. I set the mp3 player into lower volume, and brought new topic to be discussed with my two friends. But it didn't take long time, all the sacred things we discussed came to an end as my two friends closed their eyes and had really tight sleep.

---

The following morning, the birds were singing loudly and happily, it made the whole place felt like a paradise. Some birds flew from one tree to another, and others were chatting with their friends. A new great day to face had come. The sun was brightly shining over our tents. It was another thing that I love to see the sun shone through the trees, created a kind of natural curtain to filter the sunlight which caused some places stayed dark when the light couldn't reach some places that hidden behind the trees. What a great day!

However,  I couldn't just sit on my butt and enjoy the atmosphere with a glass of  hot chocolate in my hand. I needed to wake up. My friends and I had to pack our bags and prepare everything for our main purpose of being there. We had to start that day with another great adventure!

Rabu, November 05, 2014

Secangkir Mocca Manis Di Ujung Pekan Tanpa Gerimis


Ujung pekan selalu menyisakan rasa lelah yang manis. Juga sebuah perasaan yang muncul di sela-sela rasa pegal dan letih sehabis berlibur atau melakukan aktivitas mengisi hari-hari yang penuh semangat. Ia adalah malam di mana berbaring dan menonton televisi atau mendengarkan lagu-lagu pilihan di playlist kita menjadi pelampiasan terbaik sebelum esok pagi yang sekali lagi hingar dan gaduh datang menghampiri kita.

Minggu, Oktober 26, 2014

Tentang Gie dan Mahameru

Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan dan kebebasan 
Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tengadah dan berkata,  kesana-lah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis pergi
Kembali ke pangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara sapu tangan menahan tangis
Sementara Desember menabur gerimis.

Senin, Oktober 06, 2014

Mendadak Mahameru 3 : Men Behind The Backpacks






Alangkah baiknya jika saya perkenalkan lima pria power ranger yang gagah-gagah ini dalam petualangan Mahameru  kala itu. Atau sebaiknya empat saja, yaitu kawan-kawan saya yang dengan sangat menyebalkan menelantarkan saya di terminal Tirtonadai sebelum keberangkatan kami. Saya hanya tak bisa menahan diri ingin menceritakan tentang mereka. Kawan-kawan yang hebat dalam petualangan yang tak kalah hebat.


Minggu, Oktober 05, 2014

Mendadak Mahameru 2 : Mengenang Puncak Para Dewa


Mengenang sebuah perjalanan dan orang-orang yang menemaninya merupakan hal yang saya dan kawan-kawan saya biasa lakukan. Hal itu adalah pekerjaan yang manis ketika mengulang-ulang ingatan tentang segala kejadian dalam sebuah petualangan. Dan benarlah ucapan Gabug, kawan saya itu, bahwa pendakian Mahameru beberapa minggu lalu akan kami ingat sebagai kenangan yang akan bertahan cukup lama.

Kamis, Oktober 02, 2014

Mendadak Mahameru 1 : Departure

"Anjing. Ini benar-benar gila!" Saya tak henti-hentinya mengumpat saat itu.

Bersama laju bus yang secepat kilat menerobos gelap malam minggu itu, saya hanya bisa mengumpat dan tertawa-tawa seperti tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Itu merupakan umpatan-umpatan berkonotasi positif. Bukan sumpah serapah karena hal-hal menjengkelkan yang tengah terjadi atau karena

Rabu, September 10, 2014

Liburan Awal Semester

Yogjakarta!
Satu lagi cerita yang mungkin pantas untuk ditulis, dan juga satu lagi tulisan tentang sebuah perjalanan dadakan yang cukup memberikan efek menyegarkan pikiran dan hari-hari berikutnya.
Dan begitu, setelah beberapa saat yang lalu sempat bertamasya ke Jogja dengan kawan-kawan SMA, kini saya bersama segelintir kawan se-angkatan fakultas saya mengisi akhir pekan kami yang sebenarnya

Kamis, Agustus 14, 2014

Agustus!


Photo credit: wikipedia.org/audioslave

Entahlah, saya sedang kehilangan banyak sekali ide menulis karena kelelahan. Namun saya ingin sedikit corat-coret atau bercerita dengan agak semrawut mengenai bulan ini. Ya, Agustus datang dengan ramah. Ia datang saat bulan akan bersinar terang dengan apa yang orang-orang sebut sebagai 'Supermoon'. Ia juga datang dengan meteor-meteor perseidnya di setiap penjuru langit malam. Ia masih sama seperti biasanya, seperti saat seorang anak manusia

lahir dari rahimnya, setia membelai cakrawala membangunkan bagaskara dari tilamnya. Ia membiarkan angin timur bertiup hangat, menjauhkan butir-butir air turun memberi kesejukan pada tanah yang menganga kehausan. Bulan yang bagi beberapa nasionalis, atau mungkin sebut saja warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang baik, merupakan bulan yang heroik dan berapi-api. Ah, terlalu klise untuk membicarakan hal-hal serupa.

Saya akan melihat Agustus sebagai hari-hari yang riuh dan bergembira. Dengan sejuta kegiatan dan antusiasme masyarakat dari berbagai kalangan. Juga keriangan anak-anak sekolah yang dengan tertib berbaris menyambut Sang Saka Merah Putih berkibar bersama angin hangat Agustus di pucuk tiang-tiang bendera sekolah mereka. Ada juga beberapa pemuda yang tengah sibuk mempersiapkan liburan mereka. Menjelajah hutan, merajai jalan, juga menggapai puncak-puncak tertinggi, dari puncak para dewa di Mahameru hingga menggerayapi tubuh dewi Anjani. Dan saya hanya akan mengucapkan selamat jalan dan hati-hati.

Di antara semua itu, saya bukannya tidak melakukan apa-apa. Saya juga akan berada di tengah atmosfir gegap gempita tersebut. Menjadi bagian dari kegiatan-kegiatan sederhana yang merupakan cerminan antusiasme masyarakat tentang negerinya yang bertambah usia kemerdekaannya. Yang bagi beberapa orang masih dengan bingung mencari definisi kata merdeka itu sendiri. Aduh, bukankah sudah saya katakan di atas bahwa terlalu klise untuk berbicara tentang hal-hal demikian?

Sudahlah. Ada beberapa hal yang akan saya lakukan terlepas dari kegegapgempitaan perayaan tahunan negeri ini. Melaksanakan sebuah mini project dengan beberapa kawan untuk sekedar ber-jam session bersama. Belajar banyak sekali hal tentang lingkungan hidup bersama kawan-kawan organisasi. Menepati sebuah janji dengan seorang teman. Hingga menghabiskan malam-malam bersenang-senang dengan kawan-kawan saya. Akan tetapi, ada juga saat saya ingin sendirian, duduk-duduk tak melakukan apa-apa dan hanya mendengarkan Audioslave dengan lagunya Doesn't Remind Me. Sesekali juga bersama Chris Cornell menyanyikannya, "I like throwing my voice and breaking guitars. Cause it doesn't remind me of anything. I like playing in the sand what's mine is ours. If it doesn't remind me of anything." Saya jadi ingat kawan saya, Daniel yang pada saat itu bersikeras ingin mendengarkan lagu-lagu Metallica untuk melupakan suatu perkara yang membebani hatinya.. Ia ingin melakukan hal-hal yang mencegah ingatannya berbalik pada perkara yang memusingkan dirinya.

Yah, dan bulan Agustus baru berjalan beberapa hari. Kita masih berada di tengah-tengahnya. Mungkin ia akan memberikan beberapa potong kejutan yang akan kita ingat sepanjang sisa tahun ini, atau lebih. Mungkin pula ia telah menyiapkan sesuatu sebagai sebuah titik tolak bagi kehidupan beberapa orang. Ia tidak akan tergesa-gesa berlalu. Dan pada saatnya nanti, ketika ia berlalu, kita akan berterimakasih untuk hal-hal baiknya yang ia tinggalkan.

Minggu, Agustus 10, 2014

Sebuah Malam Di Gunung Andong Saat Para Pria Bercerita

Ah, ini lagi. Kawan saya Daniel kembali lagi ke Salatiga, berlibur seminggu sebelum pergi lagi ke Jakarta untuk sebuah Diklat. Beberapa hari yang lalu kami bertemu dan ia membawakan sesuatu yang dikatakannya sebagai sebuah 'Hadiah Ulang Tahun'. Kami sempat mengobrol beberapa saat di kampus dan menghabiskan malam kami bersama di rumah Bagas Riantono. Kami mendengarkan musik bersama, bermain game, tertawa-tawa, berdiskusi dan hal-hal yang sama sepanjang waktu kami bersama sejak dulu.

"Sebelum berangkat ke Jakarta, aku ingin naik gunung."

Bagitu ucapnya, yang kemudian saya simpulkan bahwa ia meminta saya menemaninya untuk sebuah pendakian gunung bersama Bagas juga tentunya. Sebenarnya saya ingin mengajak ia ke Merapi karena ia belum pernah ke sana, kemudian berganti pilihan ke Ungaran karena katanya ia ingin pendakian yang ringan. Namun pada akhirnya kami memilih gunung Andong yang 1700 mdpl-an itu karena ia harus sudah berada di rumah di hari sabtu sore untuk persiapan sebelum esoknya ke Jakarta. Kami memilih hari Jumat dan Sabtu karena kami bertiga memiliki waktu luang di hari-hari itu. Saya masih dalam keadaan lelah sebenarnya, setelah kemarin bertamasya ke Jogjakarta.

Di bawah langit gunung Andong

Kami berangkat sore hari. Saat matahari tersenyum hangat dengan awan putih yang tipis menjadi selimutnya. Kami berjalan pelan-pelan, bercakap-cakap akan beberapa hal dan bercanda bagaimana Daniel ini begitu tampak kepayahan berjalan bersama tas kecil di punggungnya. Kira-kira satu jam kemudian kami sampai di puncak dan kami segera mendirikan tenda di sana.

Awal malam itu begitu bersahabat. Dengan langit yang cerah dan bulan yang ramah kami bertiga sudah keasyikan berbicara kesana-kemari dan menikmati teh panas yang memanjakan. Kami juga dengan bodoh bernyanyi bersama keras-keras. Dari lagu Metallica, Rage Against The Machine hingga F.U.N. Dan setelah bosan kami keluar tenda, menikmati suasana malam itu yang remang-remang oleh cahaya bulan. Kami menghadap gunung Merbabu yang diselimuti awan putih di sebagian wilayah tubuhnya. Kami bercakap-cakap, mengejek satu sama lain dan seperti biasa, kawan saya satu ini selalu dengan mudah meremehkan saya dalam banyak sekali hal. Ah, dia ini memang tipe manusia yang begitu mudah menilai dan merendahkan orang lain. Tapi biarlah, saya sedang tidak ingin membicarakan itu, walaupun pada saat itu saya pura-pura kesal yang pada keesokan harinya saya bertanya apakah ia juga suka meremehkan kawan-kawan kerjanya. Yah, saya memang sudah biasa berbicara apa adanya, blak-blakan istilahnya atau menurut Bagas ceplas-ceplos, terutama terhadap kawan-kawan saya ini.

Pada malam itulah pembicaraan kami menuju ke arah yang lebih serius. Ya, kami, tiga anak muda ini berbicara lebih serius tentang pertemanan kami bertahun-tahun ini. Membicarakan bagaimana pria dan wanita itu berbeda dalam pertemanan mereka, juga tentang bagaimana kami sering menjadi melankolis saat bercerita tentang sesuatu ketika mengukur setiap hal di sekitar kami, kemudian juga mengkritik beberapa hal hingga topik-topik janggal yang kami tak pernah bicarakan selama kami berteman. Saat mendengarkan lagu dari F.U.N kami sepakat bahwa lagu yang sedang kami dengar itu terasa seperti sebuah lagu perpisahan. Kami mengingat bahwa hari Minggu nanti Daniel akan berangkat kembali ke Jakarta untuk mengikuti Diklat. Kami tidaklah terlalu sentimentil dalam pertemanan kami, hingga kami tak perlu seolah-olah mengadakan upacara perpisahan. Selain itu karena biarpun ia pergi kesana-kemari, kami akan dengan mudah bertemu kembali, menghabiskan hari bersama, berbincang dan melakukan hal-hal bodoh. Hal-hal bodoh yang Bagas tanyakan kepada Daniel apakah ia juga melakukannya dengan rekan-rekannya. Namun kami masing-masing menyadari bahwa persahabatan kami akan berlangsung lama, atau bahkan hingga kami berambut putih dan menggendong cucu kami masing-masing.

Saat kami mulai mengantuk dan kedinginan, kami segera memasuki tenda kami. Pada saat itu saya sedang berkirim-kirim pesan dengan Culin. Memang di gunung Andong kita bisa mengirim pesan atau bahkan menelpon. Ia mengatakan bahwa hujan deras mengguyur Salatiga malam itu. Dengan pamer saya katakan bahwa kami bertiga sedang menikmati suasana malam terang yang menyenangkan. Namun beberapa saat setelah itu tiba-tiba angin bertiup agak lebih kencang, dan benarlah seperti apa yang kami khawatirkan, hujan pun turun dengan segera. Kami malah tertawa-tawa. Entah panik atau memang gembira. Culinpun mengejek dengan bahasa yang sepertinya menunjukkan ia begitu senang setelah tahu bahwa kami kehujanan. Sial.

"Kau tahu, setiap kali naik gunung denganmu kita selalu kehujanan."

Saya berkata kepada Daniel. Saat kami tengah sibuk membenarkan dan mengamankan barang-barang kami dari air.

"Benarkah? Ah, itu hanya kebetulan!"

Demikian jawabnya setelah berpikir sejenak.

Kami lantas tertawa-tawa lagi setelah melupakan guraun itu. Bahkan saya sekali lagi mencandai Daniel perihal adik perempuannya yang bertambah besar dan telah menjadi seorang gadis, apalagi ia kini akan masuk di sebuah fakultas yang satu gedung dengan fakultas saya. Saya akan selalu bertanya demikian, "Siap tidak jika aku menjadi iparmu?" Dan Daniel akan menyambutnya dengan sebuah ejekan namun mesti berakhir pada sebuah kalimat yang agak serius saat menjelaskan bagaimana adiknya ini agak susah untuk bersosialisasi. Ini hanya sebuah candaan sebenarnya, namun pada setiap akhir candaan kami terhadap hal ini, ia tampak selalu menunjukkan bahwa hubungan dirinya dengan adiknya memang agak kaku. Dan seolah ia berkata: mungkin kau bisa jika kau mau. Ah, sudahlah!

Kami kemudian mendengarkan musik dan sekali lagi bersama bernyanyi dengan keras ketika hujan sudah sangat deras mengguyur tenda kami. Hujan tak berlangsung lama, namun cukup membuat kami kepayahan saat mencoba mengamankan diri kami di dalam tenda.

Di ujung malam, saat angin membawa awan hitam pergi dari gunung Andong, kami telah terdiam. Kelelahan dan mengantuk hingga akhirnya kami tertidur dengan posisi yang kurang nyaman untuk Daniel. Esok harinya ia menggerutu karena ketidaknyamanan semalam. Saya dan Bagas hanya bisa tertawa tanpa terlalu mempedulikan gerutu si Daniel.


Daniel, dengan daging yang beberapa kilo lebih berat